Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Kritik Sosial

Di Penghujung Senja

di penghujung senja engkau menulis sajak, sebuah elegi, yang hendak menelusur jejak: airmata di jemarimu, puisi adalah kandil yang bertahan tak padam, dihembus angin malam "bicaralah, biar sunyi yang akan mengkhidmati," ujar malam kepadamu, yang merasa asing sendiri. "aku ingin menulis sajak, tapi mengapa puisi tak datang padaku?" tanyamu. mungkin puisi enggan datang kepadamu, penyair yang gagal menangkap isyarat, tanda-tanda, yang berulang disampaikan. cerminmu terlalu berdebu Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Awas

Awas tukang kipas, serunya. Aku tak melihat seorang pun membawa kipas. Udara hujan. Dingin. Untuk apa kipas? Nanti masuk angin. Udara panas pun tak ada yang membawa kipas, gumamku, terlebih ini udaranya dingin. Lalu siapa yang tadi.berseru awas tukang kipas? Dia mengingatkan kipas yang semakin langka atau bagaimana? Dia mengingatkan orang tentang pembuat kipas, pengguna kipas atau penjual kipas. Ada pernah kudengar film karena tak pernah kutonton: kipas kipas cari angin. Mengapa angin dicari? Siapa yang menculik? (Kipas angin menderu. Di ruangan penuh rencana. Udara terasa demikian panas. Hujan menderas di luar). Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Kumpulan Puisi Cinta

Kumpulan puisi cinta adalah salah satu kumpulan puisi saya di dalam buku Cinta, Rindu dan Orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya. Buku tersebut memang memuat 3 kumpulan puisi, dengan tema: cinta, kritik sosial dan religiusitas.  Puisi-puisi cinta di dalam buku yang bersub-judul: menemu negeri cahaya itu dibuat untuk istri dan anak-anakku. Mungkin bahasanya sangat sederhana, dan memang saya memilih untuk menyampaikannya dengan cara yang sederhana. Mungkin seperti Sapardi Djoko Damono yang juga menulis: aku ingin mencintaimu dengan sederhana...

Puisi Tentang Sebuah Kota dan Kehidupan Sosial

TIBA-TIBA AKU TERINGAT JAKARTA :b.n kepak burung, petak sawah, hijau padi, alir air, aku teringat padamu apa kabar gedung-gedung yang menyimpan ranjang dan lenguhnya dan kelaminmu yang menegang desah angin, rintik hujan, hijau lumut, aku teringat padamu kota yang membusuk dan engkau yang menari dengan pikiran kosong di sela berita kehancuran cercah cahaya matahari, putih kabut, embun di daun aku teringat padamu apa kabar kemacetan sepanjang jalan semacet kata-kata memaknai hidup di hiruk pikuk kegamangan gigil udara, hijau daun, aroma pedesaan aku teringat padamu kota yang menyimpan keluh dan koreng di sekujur tubuh memamerkan selingkuh dan perceraian aku di sini, berjalan kaki di pagi hari mengingatmu menulis puisi dengan airmani INGATAN PADA SEBUAH LAGU :bunda atta sebuah lagu, demikian samar, dentingnya seperti puisi, yang didesahkan angin, menelusup jendela kamar saat aku bercanda dengan matamu, berenang-renang di arus cahaya, ditingkah kekeh tawa manjamu sebuah lagu demikian samar...