Skip to main content

Posts

Showing posts with the label kumpulan puisi religius

DARAH PERTAMA

lelaki yang terlahir di surga merasa paling tampan sedunia "apa yang hendak kalian persembahkan?" lelaki yang terlahir di bumi persembahkan kurban terbaik "ah, gagak, ajari aku mengubur adikku sendiri" begitulah, darah pertama manusia menetes di tangan saudara sendiri 22 Maret 2000 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Menyapamu

Siapakah engkau? Bayang-bayang samar. Tak ada kaca untuk bercermin. Tak mengenali diri sendiri. Siapa engkau? Demikian lekat di denyut nadi. Kemana ku menghadap? Engkau semata. Tatapmu rahasia. Menembus dalam kalbu Di jalan puisi aku berjalan. Gaduh ramai manusia, tetap sunyi terasa. Demikian sunyi rahasiamu. Demikian teka-teki jalan sunyi. Menujumu Aku menyapamu. Menyapamu dalam geletar tak menentu. Gemetar airmataku menyeru-nyeru, karena kutahu engkau maha tahu, segala rindu. Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

di Beranda

di beranda   kubaca tanda tanda tak ada yang perlu dikhawatirkan,   sesungguhnya karena cinta, cintamu semata yang selalu terjaga Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Doa

semoga yang kita lakukan membawa kebaikan bagi diri kita sendiri dan bagi semuanya. kebahagiaan, keselamatan, keberkahan hidup bagi kita semua. keikhlasan dan rasa bersyukur semoga hadir dalam kelapangan dada, menyingkirkan batu-batu kesombongan, kebencian, kedengkian dalam dada. "aku bertawakal kepadamu. sesungguhnya darimu segala mula, dan kepadamu segala akan kembali." Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Cinta Rahasia

tak ada yang perlu tahu  bagaimana cintaku padamu, biarlah hanya engkau yang tahu dengan kemahatahuanmu Bandung, 2016 Sila ditengok juga:   Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Download Kumpulan Puisi Telah dialamatkan Padamu

Kumpulan Puisi Telah dialamatkan Padamu  DAFTAR ISI Kata Pengantar: ‘Erotisme Religius’ Sajak Nanang Daftar Isi Intro Dalam Sajak Yang Menyimpan Rindu Berjalan Di Bawah Gerimis Sketsa Jejak Bagaimana Diterjemah Terjemah Hujan Mata Tanah Lot Sang Pertapa Demikianlah Hujan Sebutir Biru Berkejapan Mengaji Kanak Seperti Kudengar Derai Bintang Biru Yang Sepi Kau Katakan Mengenali Jejak Perempuan Pagi Berwajah Puisi Ziarah Kenangan Symphony No.40 in G Minor Mencatatkan Alamat Sebusur Panah; Lekaslah! 23.30 Seperti Engkau Yang Gemetar Mencintaimu Adalah Mencintai Aliran Air Tak Henti Mengalir Sebagai Upacara Jam Yang Menyerpih Perempuan Yang Bernama Kesangsian Seperti Kuseka Malam Seorang Yang Merangkai Bunga Seorang Yang Melipat Sepi Tiktaknya Begitu Nyaring Dalam Sunyi Tari Bulan Mungkin Kau Adalah Angin Catatan May Seperti Sebuah Risau Memory Pada Sebuah Jalan Black Hole Namun Engkau Ingatan Dari Kuntum Kuntum Mawar Oranye Istirahlah Di Dalam Mimpiku Yang Terbubuh Pada Waktu Imaji Yang...

Wahai Engkau Yang Merindu

wahai engkau yang merindu, menarilah, dengan segala nyeri, biar sunyimu kabarkan, cintamu demikian bersahaja telusuri derai yang merinai, angin yang membelai, inginmu yang ramai merindu damai. dalam semerbak sajak apa yang kau tebak, selain sebuah kehendak. langit redup mengaca hidup kian gugup. berapa mawar yang kau pinta, duri menusuk jemari, cinta yang nyeri yang terbakar cemburu akan membakar cintamu akan meledakkan segala yang kau punya meledakkan mimpimimpimu hingga tak berbekas apa yang ditakutkan dari kepergian, mungkin takut akan kehilangan, sesuatu yang bukan milik kita, sesungguhnya telah dilarung duka yang murung, karena airmata meluruh ke dada rapuh berkumpullah airmata, di telaga kenang. dan kau apungkan perahu kertas di atasnya. agar sampai ke pedih ke rindu yang sempurna. Malang, 2011

Aku Tahu Engkau Demikian Pencemburu

aku tahu engkau demikian pencemburu, dan cinta itu, selalu saja untukmu. kutahu, karena engkau begitu pencemburu karena cintaku padamu adalah sebuah kutuk, maka aku tak pernah berhenti mengetuk, pintumu setetes airmata, setitik luka, jarak yang direntang. tiktak jam, menitik letak. dimana engkau sembunyi? tak kutahu menembus malam, menembus batas kabut yang menyelimut, cinta tak akan berhenti menyeru, dirimu di setiap waktu engkau tetap terjaga, menjaga cinta tetap menyala Malang, 2011