Skip to main content

Posts

Showing posts with the label sajak

DI PENGHUJUNG OKTOBER

hujan masih terus gemericik. senja kehilangan semburat cahaya. langit warna kelabu. apa kabar puisi? sia siakah penyair mengekalkan segala dalam kata. puisi menggigil di bawah gemericik hujan. langit yang kehilangan semburat cahaya. senja yang menyisakan warna kelabu. apa kabar penyair? apakah sia sia aku dituliskan. puisi menggigil menari di bawah gemericik hujan.  

Contoh Puisi Puisi Yang Sepi

HITAM BAYANG Kota dan bayang bayang melaju menderu ke arah tak tentu Mimpi digariskan dalam tidur panjang Terbunuhlah kanak oleh jemari kutuk Ditikam dengan bengis ke dalam lubuk jantungnya Karena nyeri kehidupan O, berlepasanlah segala riwayat Dari kehendak Diserukan gemuruh diserukan deru Manusia yang kehilangan Mencampakkan engkau ke dalam parit-parit Lubang kelamin Tegang kelamin Di kelangkang waktu Hingga bertumbuhan ilusi dalam rahim imaji menggeliatkan janin kalimat Detak jantungnya adalah hentak tak jelas Demikian lamat menyeru kehidupan atau sekarat kematian HANYA ENGKAU jerit lindap dari kedalaman jiwa yang kosong menyeru meminta jawab rahasia nyeri di mana akhir di mana ujung derita tak bertepi tak tergapai daratan pantai di mana engkau menanti dengan senyum dengan peluk cium o dekaplah aku ayun ambinglah dalam perahu cintamu biar kukayuh biar simbah segala napsu biar punah segala syahwat lebur dalam cahaya cintamu yang gelombang arusnya menenggelamkan ke dalam hakikat ke...

Contoh Sajak Rindu kepada Tuhan

Di Saat Aku Merinduimu Genta waktu yang kau bunyikan Dentingnya sampai di sini Di penghujung hari Saat ku merinduimu Apa yang ingin kau kabarkan? Di kelebat saat yang fana Engkau demikian abadi Dalam ingatanku Sejak kau hembus Tak pupus Hingga kini Hingga gigilku sendiri Merinduimu Di lelangit harap dan mimpi Kutatap Juntaian takdir Leliku Jalan-jalan bercabang Sampaikah aku Menujumu? Di hariba Cintamu

O Sajak O Apa O

Oleh: Agustinus Wahyono Semula, setelah menikmati ‘kata pengantar’, saya membuka sajak-sajak dalam buku Telah Dialamatkan Padamu secara cepat dan segera berlembar-lembar. Dari membaca cepat dan berlembar-lembar itu beberapa kali saya diperhadapkan dengan sebuah kata. Kata “O” (huruf vokal, ataukah juga malah bukan huruf melainkan angka nol?). Dari satu “O” berloncatan ke “O” lainnya; baik dalam satu sajak maupun berpindah ke sajak lainnya. Ada apa dengan “O”, kok suka sekali sang sajakis memakainya, pikir saya penasaran. Berikut-berikutnya saya pun menemukan sajak berjudul “O Mata”. Ya, “O Mata”, tampak jelas memakai kata “O” di daftar isi dan di halaman 18. Saya semakin penasaran saja, ada apa dengan “O”; apa yang hendak disampaikan oleh sajakis Nanang Suryadi (NS) melalui sajak-sajaknya. Maka, karuan saja saya cari jejak-jejak “O” pada sajak-sajak NS dalam antologinya itu. Satu per satu saya baca baik-baik, lalu saya hitung. Ternyata dari 99 sajak dalam buku tersebut terdap...

Telah Dialamatkan padamu Sepilihan Sajak Nanang Suryadi

Oleh: Cunong Nunuk Suraja Membaca judul buku kumpulan puisi Nanang, selintas kita sudah terikat pada kata "sepilihan", sebuah kata yang mengisyaratkan adanya kesatuan atau jumlah satu. Barangkali saja penyair akan mempunyai dua atau sekian pilihan. Penggunaan kata yang menabrak kaidah bahasa Indonesia ini akan kita jumpai dalam 100 sajak Nanang yang terpilih dalam buku puisi ini. Nanang sangat suka mengerjai kata dalam sajak-sajaknya dan ini merupakan hak penyair yang dikenal dengan poetic license . Untuk sekadar contoh, kita simak puisi-puisi berikut. terjemah kehendak, pada langit luas ………………………………………… mungkin cuma gurau melupa duka, karena ………………………………………… berabad telah lewat, apa yang ingin didusta? pada bening mata (Sajak “Intro”) Dalam darah buncah meruah gelombangkan gelisah kalut Seperti laut dalam tatapmu memagut. Demikian gairah meniada rasa takut ……………………………………… Ada ruang kosong. Keheningan. Jika engkau demikian lelah. Masuklah. Ada ruang sepi. Menemu diri s...

Menelusur Malam, Menembus Temaram

(1) menelusur malam. cahaya lampu. jalan raya yang menjadi kenang. pada tanda tanda. yang tak henti melambai. dari lagu lagu yang diputar berulangkali. di dalam rekaman ingatan. mungkin bukan lirik yang sederhana. mungkin bukan sajak yang bersahaja. karena puisi memberi rahasianya sendiri. seperti…. (2) jalan yang tak juga lengang. seperti dalam ingatan. penuh klakson dan deru. penuh rambu. tanda tanda yang harus kubaca. biar tak sesat diri. menafsir makna. menafsir marka. menafsir bahasa jalan raya. (3) malang pasuruan probolinggo situbondo banyuwangi pantai utara timur jawa membaca tanda dari titik ke berapa di panarukan kaki deandels dijejakkan sejarah yang hilir mudik dalam ingatan (4) menembus malam. dinihari yang temaram. di selasela sorot cahaya. kendaraan melaju ke mana. entah. ke dalam pikiran yang simpang siur. antara kenang dan kenang. menembus malam. menjelajah riwayat waktu.

Tentang Mimpi Penyair yang Tak Segera Ingin Tidur

bersama pringadi & yayan triansyah (1) ah, engkau penyair. mengapa tak skegera tidur. terlelap. dan bermimpi menulis puisi. puisi yang kau tulis di dalam mimpi telah ditakwilkan dalam kitab primbon mimpi. berlapis mimpi seperti kue lapis yang manis legit dimakan saat kau lapar puisi (2) insomnia. amnesia. kau lupa mana kata yang harus kau ucapkan saat kau lupa untuk segera tidur karena lupa mana kata yang tepat untuk mengatakannya dan kini kau coba mengingat ingat insomnia atau amnesia. dan kau lupa untuk tidur segera. (3) ada yang membawa mimpinya ke dalam puisi yang ditulisnya di dalam mimpnya malam tadi. saat dia terbangun puisinya masih terus ingin bermimpi. (4) di dalam puisinya ia menata mimpi agar kata kata tersusun rapi diksi demi diksi yang serasi seperti puisi dalam mimpinya malam nanti

UGD Tengah Malam

malam yang penuh erang, selang infus, jarum suntik, duh gusti, di bawah ambang sadar masih sanggupkah dipanggil namamu: allah…allah…allah biar tak terucap makian umpatan di perih yang menjalar seluruh tubuh duh gusti, semoga masih hanya namamu: allah…allah…allah… di dalam cintaku di dalam rinduku Malang, 20-22 Juni 2010

setiap pagi, arya lihat burung burung bernyanyi

setiap pagi, arya lihat burung burung bernyanyi dipeluk ayah yang belum mandi, di atas genting rumah tetangga, di pohon pohon ceri burung emprit, burung gereja, burung kutilang, burung kenari itu burung, ada berapa de? burung burung terbang dan bernyanyi disiram cahaya matahari pagi arya tertawa, arya menangis, arya tersenyum, arya teriak dalam pelukku, sepanjang pagi dalam pelukku malang, 2010

Nasi Goreng

ada yang meruap dari penggorengan. harum bawang merah dan putih. dilumat dengan cabe dan garam. nasi diaduk di panas penggorengan. seperti kuaduk semua kenang dan keseharian. dalam puisi. sepedas cabe. seasin garam. kulumat amarah, gembira, keringat dan airmata. ku malang, 2010

Serabi Jalan Margonda

buat: arwan, ninus, cecil serabi yang gurih. susu kental manis. parutan keju. meruap harum. sebagai kehangatan. kenang sepanjang jalan. margonda yang ramai. mall mall yang bertumbuhan. mungkin akan mengasingkan kita. dari senda. dari puisi. waktu lalu. Malang, 2010

Bulan Menari antara Ada dan Tiada

bulan menari antara ada dan tiada, nyata atau maya, di matamu kanak, yang berbisik: ada apa denganmu? tapi mungkin jangan tanya pada bulan. jangan pula minta bunda: ambilkan bulan bu, ambilkan bulan bu. karena bulan sedang menari. meniru mentari yang gerhana. bulan tak akan datang padamu lagi. jangan menangis. jangan menangis. seperti kanak itu yang tak mengerti mengapa harus membuka topengnya. ia hanya ingin berteman bintang. berapa jumlah bintang di langit? katamu. tak tahu. tak tahu. bulan menari. mentari menari. dan engkau kanak tak ingat lagi dongeng tentang wonder dan neverland. seperti peterpan yang melupakan hook bajak laut dan para peri, seperti alice yang melupakan kelinci berkacamata dan ratu merah. karena engkau telah dewasa. sepertinya malang, 18 juni 2010

Candu Kata-Kata

buat: Ganz adalah candu yang lebih candu: kata. yang berbahaya bagi para penguasa yang bebal dan suka aniaya. adalah kata yang lebih candu dari candu yang menelusup ke dalam jiwa jiwa yang merana dihina tiada habisnya. kata.

ada yang kuingat dari segelas kopi

ada yang kuingat dari segelas kopi. angan yang diaduk dalam kenang dan keluh tak habis habis. seperti kopi yang kuaduk dalam gigil mendung cuaca dingin. angan dan angin menderu ingin. seperti sore ini. kuaduk puisi dalam segelas kopi. hitam sekali. malang, 16 juni 2010

Lalu Engkau Menyusun Kata Khianat

lalu engkau menyusun kata dalam kalimat debat yang hebat pat gulipat tipu muslihat dalam rapat rapat menjerat rakyat menjerat taklimat hingga hanya engkau yang dialamat. ah, engkau siapa tak tahu tipu muslihat menjerat minat? mata hakikat memandangmu demikian lekat. tak kau dengarkah walau lamat ada yang menyeru: tamat. skak mat! malang, 16 juni 2010

Rumah-Rumah di Atas Gunung

buat; onoy dan njibs rumah rumah di atas gunung rumah rumah yang dihuni kata kata rumah rumah yang menyapa kabut menyapa angin menyapa sengat matahari menyapa sepimu mungkin juga sepiku sebagai sebuah sajak yang membayangkan dirinya dieja dalam rindu yang menyeru dalam cinta yang menyala dalam kenang yang berdentang dalam seru yang melagu dalam harap yang kerap dalam doa yang terbuka terima sapa Ku malang, 16 juni 2010