Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Contoh Puisi

Bulan Menari antara Ada dan Tiada

bulan menari antara ada dan tiada, nyata atau maya, di matamu kanak, yang berbisik: ada apa denganmu? tapi mungkin jangan tanya pada bulan. jangan pula minta bunda: ambilkan bulan bu, ambilkan bulan bu. karena bulan sedang menari. meniru mentari yang gerhana. bulan tak akan datang padamu lagi. jangan menangis. jangan menangis. seperti kanak itu yang tak mengerti mengapa harus membuka topengnya. ia hanya ingin berteman bintang. berapa jumlah bintang di langit? katamu. tak tahu. tak tahu. bulan menari. mentari menari. dan engkau kanak tak ingat lagi dongeng tentang wonder dan neverland. seperti peterpan yang melupakan hook bajak laut dan para peri, seperti alice yang melupakan kelinci berkacamata dan ratu merah. karena engkau telah dewasa. sepertinya malang, 18 juni 2010

Candu Kata-Kata

buat: Ganz adalah candu yang lebih candu: kata. yang berbahaya bagi para penguasa yang bebal dan suka aniaya. adalah kata yang lebih candu dari candu yang menelusup ke dalam jiwa jiwa yang merana dihina tiada habisnya. kata.

ada yang kuingat dari segelas kopi

ada yang kuingat dari segelas kopi. angan yang diaduk dalam kenang dan keluh tak habis habis. seperti kopi yang kuaduk dalam gigil mendung cuaca dingin. angan dan angin menderu ingin. seperti sore ini. kuaduk puisi dalam segelas kopi. hitam sekali. malang, 16 juni 2010

Lalu Engkau Menyusun Kata Khianat

lalu engkau menyusun kata dalam kalimat debat yang hebat pat gulipat tipu muslihat dalam rapat rapat menjerat rakyat menjerat taklimat hingga hanya engkau yang dialamat. ah, engkau siapa tak tahu tipu muslihat menjerat minat? mata hakikat memandangmu demikian lekat. tak kau dengarkah walau lamat ada yang menyeru: tamat. skak mat! malang, 16 juni 2010

Rumah-Rumah di Atas Gunung

buat; onoy dan njibs rumah rumah di atas gunung rumah rumah yang dihuni kata kata rumah rumah yang menyapa kabut menyapa angin menyapa sengat matahari menyapa sepimu mungkin juga sepiku sebagai sebuah sajak yang membayangkan dirinya dieja dalam rindu yang menyeru dalam cinta yang menyala dalam kenang yang berdentang dalam seru yang melagu dalam harap yang kerap dalam doa yang terbuka terima sapa Ku malang, 16 juni 2010

apa yang harus aku kabarkan padamu?

apa yang harus aku kabarkan padamu? mungkin tentang lumpur yang melumur di genting dan tembok rumah kami. atau bau gas yang menyengat. dan setiap saat akan meledak dalam rasa khawatir kami. bolehlah kami meminta harga atas sejengkal dua jengkal harapan yang ditanggalkan. semeter dua meter dari tanah yang kau minta untuk menegakkan suarmu. karena engkau hanya dapat menatap kasihan. sedang kenangan? tinggal rumah-rumah kosong yang ditinggalkan. sebagai sepi. menunggu apa yang akan terjadi. mungkin nyeri. mungkin nisbi. mungkin mimpi.

di Reruntuhan Keraton

buat: qizink la aziva di reruntuhan keraton, siapa yang menatah bebatuan, selain jejemari yang tak habis-habis mendaraskan kenangan pada nisan makam-makam yang ramai. dan ratu yang kau tunggu di mana ia, saat engkau demikian lelah. kemana ratu. kemana pangeran. kemana sultan. hanya angin dari karangantu yang sibuk menggerutu. memukul gedung-gedung. memukul lampu-lampu. sepanjang pantai, yang bukan milikmu lagi. bukan milikmu lagi. siapa yang mengeja sajak di situ, dalam sayat parau debus. dalam magrib yang kehilangan ngajinya. dalam keramaian mall mall dan macet jalan raya sepanjang serang-cilegon-anyer-carita di hari liburan tiba. dan engkau masih menunggu? ratu dari reruntuhan keraton itu. malang, 16 Juni 2010

Sketsa Suasana

(1) seekor tupai. melompat dari pohon ke pohon. selihai apa selincah apa sepandai apa. pernah jatuh juga. seekor tupai bermandi cahaya. meloncat dari pohon ke pohon. menemu apa. mungkin menemu bahagia. (2) kau tahu makna bahagia? adalah detik demi detik dimana kau mau mensyukurinya (3) kicau burung. sisa basah hujan. segar udara pagi.secangkir kopi. ah, apalagi yang akan diingkari untuk terus mensyukuri. (4) seekor rusa di atas meja. bermandi cahaya. seekor rusa di atas meja. siapa punya puisi milik siapa. di atas meja seekor rusa mematung saja. menunggu kata menyapanya. (5) seekor kupu kupu. dua peri bidadari. melayang terbang. di kerdip cahaya di kerlip cahaya. (6) yang menari adalah kata. kata yang bersayap. dan mengepakngepak di dalam mimpi puisimu malam ini. yang menari adalah engkau. hurufhuruf yang berhamburan sebagai burung burung jiwa. (7) di puncak gapura. seekor burung ucapkan selamat malam. kemana mimpimu kan dihantarkan? sejuta sunyi menemu surganya sendiri di jalan jalan ...

Untuk Arya Mada Hastasurya

1. di matamu kanak, aku berenang menelusuri riwayat leluhur: raden wijaya. tribuwana tungga dewiarya damar dan gajah mada. brawijaya. 2. di balik jendela kan kau temukan dunia. beraneka (3) 8 matahari berputar. dunia berputar. hidup berputar. bersabarlah. beranilah. menghadapi hidup. yang mungkin tak ramah. telengas. kepadamu. bersabarlah. berbahagialah. dengan cinta. dengan kasih sayang. seperti kutemu di bening matamu. anakku.

Rambut Memutih

rambut memutih. cahaya sorga. tatap pada bening cermin. mata kanak kanakmu. telusur jejak. peta. gurat tangan. takdir atau kehendak bebas. sebagai gulir airmata. duka atau bahagia. siapa punya. gaduh atau sunyi. siapa pinta. menjejak pada awal mula. kembali pada awal mula. berulang ulang mengulang ulang. mengaji diri. mengaji ngaji. memutih rambut. cahaya sorga. diukur langkah. berapa waktu. berapa jarak. sampai di awal mula kata.

Agar Kau Catat

buat: wilu ningrat aku tulis sajak ini, saat hujan menyapa tak henti, karena tanda baca datang dan pergi. mungkin puisi harus dipahat di dinding dinding kenang. agar kau catat. kau ingat. pernah ada sahabat memahat dindingmu. dengan puisi. demikian khidmat. Malang, 2010

Malang Pasar Malam

ada yang menari. kanak kanakku. di keriuhan pasar malam. sepanjang jalan. kloneng delman. nyala oncor. wayang kulit. gelembung sabun. balon warna warni. kembali kita kembali. ke dalam kenang. Malang, 2010-05-21

BERMAIN KATA BERMAIN MAIN

BERMAIN KATA BERMAIN MAIN dari atas genteng kulihat hari demikian genting orang orang berteriak gantung kepada pengkhianat yang menggunting di dalam lipatan seperti gaung pekik di dalam gentong kosong hari demikian panas mungkin kerbau kerbau akan pergi berkubang tapi aku duduk saja di atas bangku ingin membuat sajak berkabung mungkin tentang bunga bakung tapi kepalaku terasa kosong seperti kelapa yang terkena hama karena merasa petaka betapa menyiksa cobalah hitung hutang kita seperti kuda yang duka bermain dadu seperti duda ditinggal lari bini dan mengoceh mungkin hantu mungkin tuhan hingga kaki terasa kaku karena kuku membiru ngilu mata meneteskan perih amat pedih hingga teringat mati ah, kata jadi gado gado campur menggoda-goda lelaki sendiri di kota yang riuh dengan otak bebal berdiam seperti katak dalam kotak menerima kutuk sebagai puisi yang diketik disela kotek ayam dan kenangan yang membuat tak berkutik karena noda diri merasa dina di deru suara adzan dan darah mend...

4 Sajak (Puisi) Lama Bagus Indah Keren

ENGKAU YANG TAKUT MEMBACA ISYARAT engkau demikian takut membaca isyarat. tapi kemestian akan tiba juga. walau kau tolak. walau kau kata tak hendak. karena hati yang tak sepenuh niat. menggamangkan langkah. memutar dirimu memutar mutar. dalam lingkaran memusar. di peta labirin tanya jawabmu sendiri. o, engkau yang menyimpan dendam amarah dan rindu cinta di hati. ke mana kau akan pergi. menuju inginmu sendiri. di peta mimpimu sendiri. atau di rajah nasibmu sendiri. ENGKAU DAN SEBUAH KEBUN di taman itu kebun yang dirawatnya sendiri dengan tangannya ditanam pengetahuan yang menggoda dirimu memakan buahnya hingga berlepasan pakaian cahaya dari tubuh dan kau pergi dari taman itu dengan sesal di hati dengan duka di hati karena terusir ke goda demi goda lalu engkau mengembara pada kata kata yang diajarkannya suatu ketika rahasia semesta juga tentang darah yang ngalir dari kanak-kanakmu juga air bah yang melanda negeri negeri para pendosa karena telah dilupa oleh goda musuhmu yang nyata yang m...

Antologi Puisi Nanang Suryadi Terbaik Indonesia Update

KARENA DIKSI sebagai petapeta yang dilukis menghamburkan jejak lama dari riwayat sebuah ingatan hingga waktu merapat ke titik nol sampai dentingnya yang menggaung menjadi senyap lenyap dalam sajak tak selesai karena huruf membisu dalam rahim pertapaan menumbuh tumbuh dalam diam dalam sunyi memandang diri semakin asing pada rambu rambu di jalanan pada buku buku dan kitab suci layaknya puisi aneh yang ditulis dari arus deras mimpi mengamuk tak tahu mau meloncatloncat tak tahu ingin menarinari tak tahu hendak bolak balik kata berbolak balik menemu kembali kata yang sama mengulang ulang baiklah siapkan saja pena deret leburkan kata bergumulah dalam frasa bersetubuhlah dalam kalimat baris dan bait sajak menelusur hingga mula, karena jadi maka jadilah: karena rona karena warna karena nuansa karena biru karena hitam karena jingga karena waktu karena senja karena petang karena malam karena fajar karena detik karena jam karena hari karena minggu karena bulan karena musim karena tahu...

PENAT

demikian penat membilur hari hari lelah lungkrah tak berdaya diri tak tegar diri goyah lemah melayang layang mengawang awang langkah menggamang gamang o mengapa diri mengapa tak napak jejak tegak menapak tapak di bumi sendiri tak gamang menggoda goda tak ragu mengganggu ganggu o diri ke mana akan pergi dimana niat ditancap dengan sepenuh hati sepenuh itikad diri menempuh tempuh jejalan bebatu terjal mendaki menaik turun lembah gegunung ngarai curam o diri menjejak riwayat menelusur akar hingga ke inti di sunyi sendiri di gelisah sendiri di amuk sendiri di pekik sendiri di gumam sendiri di maki sendiri di rindu sendiri di geram sendiri di amarah sendiri di bisik sendiri di diam sendiri meledak ledak dalam dada sendiri meruah magma meruah lava meruah mengalir alir ke engkau engkau engkau o mula mula o akhir segala mula mula segala akhir tak bermula tak berakhir melingkar lingkar rahasia tanya jawab melingkar lingkar jawab tanya rahasia melingkar lingkar o mampus diri diregang sekarat me...