Skip to main content

Posts

Showing posts with the label kumpulan puisi

Sunyi Sebenar Sunyi Meliputinya

sunyi sebenar sunyi meliputinya. sunyi yang ingin dinikmatinya sendiri. jangan kau ganggu. hingga pertapa menemu. masuk telinga ruci. tak ada kepastian baginya. hanya dirinya sendiri. bertarung dengan gelombang. pemikirannya sendiri. lautan api di kepalanya.

Kumpulan Puisi Untuk Para Sahabat

Kumpulan Puisi Untuk Sahabat Puisi-Puisi Nanang Suryadi  KEMARAU : devi ps ada yang takut melangkahkan kaki, karena kemarau begitu bengisnya menghadang langkah, menantang dengan kerontangnya, kau tahu? tak ada oase, walau fatamorgana, dalam pandang, juga bayang, ada yang gamang meniti waktu karena kepedihan kerap diteguknya ada yang ragu menatap cuaca walau pernah pada mata dicari telaga "duhai, mengapa kemarau semata!" malang, 1999 KUDA HITAM BERLARI KENCANG :anggi anggi, kuda yang tegar itu dulu berlari kencang sekali ke mana pergi? mungkin berdiri termangu dalam belenggu tapi kutahu: ia tak kan terus begitu kakinya yang kekar surainya yang tebal napasnya yang panjang : hei, kudaku lari kencang! malang, 1999 PADA ALAM KAU BERNYANYI :samsul bachri alam mengajarkan, banyak hal: daun yang jatuh tak mengaduh tersenyum ia karena tanah merindukannya dan pada daun muda ia memberi kesempatan pada alam kau bernyanyi bernyanyilah dengan kemerduan suaramu malang, 1999 EYANG YANG BIJAK...

Kumpulan Puisi Wisata Terbaru 2013

DI LONDON SALJU POST COLONIAL salju turun demikian lebat selebat kelebat kelebat bayangan sejarah di antara patung patung dan gedung tua sale! sale! musim dingin belum habis wajah wajah cerah berburu di butik butik aku membayangkan salju post colonial turun di ruangan berpenghangat tak ada yang menanyakan darimana aku berasal seperti hanya kuduga wajah wajah eropa timur lithuania, rumania, rusia, slovakia, bangsa bangsa yang berdesakkan dalam kepalaku juga di dalam butik butik yang berteriak sale sale aku berfoto dengan patung muhammad alfayed, dan tak masuk ke tokonya, harod, aku ikut bersedih tentang dodi dan diana salju turun demikian lebat parit parit membeku, di london city, aku ikut membeku bersama ingatan post colonialku CHINA TOWN apa yang merekatkan kita, mungkin nasi bukan steak kentang dan roti bebek panggang di chinatown london, enggan masuk ke dalam lambungku ah, masih kuingat bebek panggang di pusat kota beijing kedai makan yang berhuruf arab di temboknya tapi udara demik...

Menelusur Malam, Menembus Temaram

(1) menelusur malam. cahaya lampu. jalan raya yang menjadi kenang. pada tanda tanda. yang tak henti melambai. dari lagu lagu yang diputar berulangkali. di dalam rekaman ingatan. mungkin bukan lirik yang sederhana. mungkin bukan sajak yang bersahaja. karena puisi memberi rahasianya sendiri. seperti…. (2) jalan yang tak juga lengang. seperti dalam ingatan. penuh klakson dan deru. penuh rambu. tanda tanda yang harus kubaca. biar tak sesat diri. menafsir makna. menafsir marka. menafsir bahasa jalan raya. (3) malang pasuruan probolinggo situbondo banyuwangi pantai utara timur jawa membaca tanda dari titik ke berapa di panarukan kaki deandels dijejakkan sejarah yang hilir mudik dalam ingatan (4) menembus malam. dinihari yang temaram. di selasela sorot cahaya. kendaraan melaju ke mana. entah. ke dalam pikiran yang simpang siur. antara kenang dan kenang. menembus malam. menjelajah riwayat waktu.

Tentang Mimpi Penyair yang Tak Segera Ingin Tidur

bersama pringadi & yayan triansyah (1) ah, engkau penyair. mengapa tak skegera tidur. terlelap. dan bermimpi menulis puisi. puisi yang kau tulis di dalam mimpi telah ditakwilkan dalam kitab primbon mimpi. berlapis mimpi seperti kue lapis yang manis legit dimakan saat kau lapar puisi (2) insomnia. amnesia. kau lupa mana kata yang harus kau ucapkan saat kau lupa untuk segera tidur karena lupa mana kata yang tepat untuk mengatakannya dan kini kau coba mengingat ingat insomnia atau amnesia. dan kau lupa untuk tidur segera. (3) ada yang membawa mimpinya ke dalam puisi yang ditulisnya di dalam mimpnya malam tadi. saat dia terbangun puisinya masih terus ingin bermimpi. (4) di dalam puisinya ia menata mimpi agar kata kata tersusun rapi diksi demi diksi yang serasi seperti puisi dalam mimpinya malam nanti

UGD Tengah Malam

malam yang penuh erang, selang infus, jarum suntik, duh gusti, di bawah ambang sadar masih sanggupkah dipanggil namamu: allah…allah…allah biar tak terucap makian umpatan di perih yang menjalar seluruh tubuh duh gusti, semoga masih hanya namamu: allah…allah…allah… di dalam cintaku di dalam rinduku Malang, 20-22 Juni 2010

setiap pagi, arya lihat burung burung bernyanyi

setiap pagi, arya lihat burung burung bernyanyi dipeluk ayah yang belum mandi, di atas genting rumah tetangga, di pohon pohon ceri burung emprit, burung gereja, burung kutilang, burung kenari itu burung, ada berapa de? burung burung terbang dan bernyanyi disiram cahaya matahari pagi arya tertawa, arya menangis, arya tersenyum, arya teriak dalam pelukku, sepanjang pagi dalam pelukku malang, 2010

Nasi Goreng

ada yang meruap dari penggorengan. harum bawang merah dan putih. dilumat dengan cabe dan garam. nasi diaduk di panas penggorengan. seperti kuaduk semua kenang dan keseharian. dalam puisi. sepedas cabe. seasin garam. kulumat amarah, gembira, keringat dan airmata. ku malang, 2010

Serabi Jalan Margonda

buat: arwan, ninus, cecil serabi yang gurih. susu kental manis. parutan keju. meruap harum. sebagai kehangatan. kenang sepanjang jalan. margonda yang ramai. mall mall yang bertumbuhan. mungkin akan mengasingkan kita. dari senda. dari puisi. waktu lalu. Malang, 2010

Bulan Menari antara Ada dan Tiada

bulan menari antara ada dan tiada, nyata atau maya, di matamu kanak, yang berbisik: ada apa denganmu? tapi mungkin jangan tanya pada bulan. jangan pula minta bunda: ambilkan bulan bu, ambilkan bulan bu. karena bulan sedang menari. meniru mentari yang gerhana. bulan tak akan datang padamu lagi. jangan menangis. jangan menangis. seperti kanak itu yang tak mengerti mengapa harus membuka topengnya. ia hanya ingin berteman bintang. berapa jumlah bintang di langit? katamu. tak tahu. tak tahu. bulan menari. mentari menari. dan engkau kanak tak ingat lagi dongeng tentang wonder dan neverland. seperti peterpan yang melupakan hook bajak laut dan para peri, seperti alice yang melupakan kelinci berkacamata dan ratu merah. karena engkau telah dewasa. sepertinya malang, 18 juni 2010

Candu Kata-Kata

buat: Ganz adalah candu yang lebih candu: kata. yang berbahaya bagi para penguasa yang bebal dan suka aniaya. adalah kata yang lebih candu dari candu yang menelusup ke dalam jiwa jiwa yang merana dihina tiada habisnya. kata.

ada yang kuingat dari segelas kopi

ada yang kuingat dari segelas kopi. angan yang diaduk dalam kenang dan keluh tak habis habis. seperti kopi yang kuaduk dalam gigil mendung cuaca dingin. angan dan angin menderu ingin. seperti sore ini. kuaduk puisi dalam segelas kopi. hitam sekali. malang, 16 juni 2010

Lalu Engkau Menyusun Kata Khianat

lalu engkau menyusun kata dalam kalimat debat yang hebat pat gulipat tipu muslihat dalam rapat rapat menjerat rakyat menjerat taklimat hingga hanya engkau yang dialamat. ah, engkau siapa tak tahu tipu muslihat menjerat minat? mata hakikat memandangmu demikian lekat. tak kau dengarkah walau lamat ada yang menyeru: tamat. skak mat! malang, 16 juni 2010

Rumah-Rumah di Atas Gunung

buat; onoy dan njibs rumah rumah di atas gunung rumah rumah yang dihuni kata kata rumah rumah yang menyapa kabut menyapa angin menyapa sengat matahari menyapa sepimu mungkin juga sepiku sebagai sebuah sajak yang membayangkan dirinya dieja dalam rindu yang menyeru dalam cinta yang menyala dalam kenang yang berdentang dalam seru yang melagu dalam harap yang kerap dalam doa yang terbuka terima sapa Ku malang, 16 juni 2010

apa yang harus aku kabarkan padamu?

apa yang harus aku kabarkan padamu? mungkin tentang lumpur yang melumur di genting dan tembok rumah kami. atau bau gas yang menyengat. dan setiap saat akan meledak dalam rasa khawatir kami. bolehlah kami meminta harga atas sejengkal dua jengkal harapan yang ditanggalkan. semeter dua meter dari tanah yang kau minta untuk menegakkan suarmu. karena engkau hanya dapat menatap kasihan. sedang kenangan? tinggal rumah-rumah kosong yang ditinggalkan. sebagai sepi. menunggu apa yang akan terjadi. mungkin nyeri. mungkin nisbi. mungkin mimpi.

di Reruntuhan Keraton

buat: qizink la aziva di reruntuhan keraton, siapa yang menatah bebatuan, selain jejemari yang tak habis-habis mendaraskan kenangan pada nisan makam-makam yang ramai. dan ratu yang kau tunggu di mana ia, saat engkau demikian lelah. kemana ratu. kemana pangeran. kemana sultan. hanya angin dari karangantu yang sibuk menggerutu. memukul gedung-gedung. memukul lampu-lampu. sepanjang pantai, yang bukan milikmu lagi. bukan milikmu lagi. siapa yang mengeja sajak di situ, dalam sayat parau debus. dalam magrib yang kehilangan ngajinya. dalam keramaian mall mall dan macet jalan raya sepanjang serang-cilegon-anyer-carita di hari liburan tiba. dan engkau masih menunggu? ratu dari reruntuhan keraton itu. malang, 16 Juni 2010