Skip to main content

Posts

Showing posts with the label ketuhanan

Menyapamu

Siapakah engkau? Bayang-bayang samar. Tak ada kaca untuk bercermin. Tak mengenali diri sendiri. Siapa engkau? Demikian lekat di denyut nadi. Kemana ku menghadap? Engkau semata. Tatapmu rahasia. Menembus dalam kalbu Di jalan puisi aku berjalan. Gaduh ramai manusia, tetap sunyi terasa. Demikian sunyi rahasiamu. Demikian teka-teki jalan sunyi. Menujumu Aku menyapamu. Menyapamu dalam geletar tak menentu. Gemetar airmataku menyeru-nyeru, karena kutahu engkau maha tahu, segala rindu. Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

di Beranda

di beranda   kubaca tanda tanda tak ada yang perlu dikhawatirkan,   sesungguhnya karena cinta, cintamu semata yang selalu terjaga Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Doa

semoga yang kita lakukan membawa kebaikan bagi diri kita sendiri dan bagi semuanya. kebahagiaan, keselamatan, keberkahan hidup bagi kita semua. keikhlasan dan rasa bersyukur semoga hadir dalam kelapangan dada, menyingkirkan batu-batu kesombongan, kebencian, kedengkian dalam dada. "aku bertawakal kepadamu. sesungguhnya darimu segala mula, dan kepadamu segala akan kembali." Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Kumpulan Puisi (Sajak) Religius

Kumpulan Puisi  SAJAK-SAJAK RELIGIUS Karya: Nanang Suryadi IN MEMORIUM melambaikan senja padamu. bersama air mata yang terasa asin di bibir. mata yang berkaca. melewati jendela menatap kematian dengan begitu bersahaja. amboi, langkah ini hendak menuju ke mana. selain menjejak pada kemungkinan hari-hari penuh kegelisahan, kehampaan dan kesunyian diri sendiri. meraba kegelapan yang melumuri isi kepala. kereta warna hitam yang kau sorongkan melewati pelataran. yang begitu lengang. tawarkan sebuah kenangan di masa lalu. ketika kehidupan baru di hembuskan ke dalam dadamu... bikin perjanjian untuk kembali pada asal mulamu, anak manusia. sepertinya tak ada yang patut ditangiskan. selain mengaca pada hari yang penuh warna dan cerita penuh deru di masa lalu. (Tuhan, aku hantarkan doa melewati senja ini) AKU YANG MERINDU, SIAPA TAHU? serupa lonceng berdentang di tangan poe, atau yono wardito ia menarik-narik tangan kakiku hendak menari. hendak menari mungkin ia semacam kerinduan begitu asing...