Skip to main content

Contoh Puisi Rindu Kepada Tuhan

Menderaslah!

menderaslah menderas impian sebagai kenangan di sungai-sungai rinduku di laut gelombang hempas-hempas lelayar mengarah tuju hingga lunas segala pinta segala ujar ke dalam arung tak berbatas tepi. inilah derita yang ditawarkan lewati ambang hidup mati di sekarat maut sebagai gelisah mencari dan menemu. wajahmu! wajahmu! melindap-lindap dalam harap. buruan tatap. bayang menghilang bayang membayang kenang berdentang-dentang. di sunyi diri di hiruk pikuk hibuk diri sendiri. gemuruh dalam dada. debar di jejantung. mendegup-degup. menyeru seru. memanggilmu sepenuh rindu!

12 Januari 2003

Comments

Popular posts from this blog

Aku Merindukanmu

aku merindukanmu, tapi jarak dan waktu mengurungku o mata, siapa simpan kesedihan di situ, dalam bening sedu sedan tertahan, dalam dada aku merindukanmu, kau harus percaya itu seperti kau tahu, yang merindu menunggu saat memburu tuju!

Contoh Puisi Post modern dan Post colonial

DONGENG HANTU DI KOTA SAJAK Buat: penyair w hantu telah meledakkan mimpi kota kota di malam malam panjang mengerikan sebagai teror yang dicipta dalam koran dan televisi dan film holywood di mana tak ada rambo atau james bond yang mampu mencegahnya karena kesumat telah menjadi seamuk mayat yang dibangkitkan dari kuburnya dengan dendam dan belatung dari borok luka yang penuh darah dan nanah gentayangan menghampiri sajak yang penuh kegelapan bahasa yang telah menjadi sulapan dari dunia kegelapan menghantuimu dengan mulut mulut nganga berbau busuk propaganda tak henti henti dari botol botol minuman impor berlabel franchise formula dan resep paha ayam bumbu tepung menyerbu lambung kanak kanakmu sebagai sampah yang dilesakan ke dalam lapar negara negara dunia ketiga yang mabuk bahasa iklan dan ekstasi yang menjungkirbalikan kepala hingga di bawah telapak kaki para monster yang telah menciptakan frankenstein dan domba dolly berkepala manusia di pesta pora membunuh angka angka data statistik

Nanang Suryadi Baca Puisi di Setiap Senja

Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB Web Nanang Suryadi