Skip to main content

KABUT



kabut menari nari di mata matahari menari nari kabut melindap lindapkan cahaya ke gelap terang hari di batas batas mimpi mimpi sendiri di batas batas lelaku sendiri sebagai sepi merajam rajam diri merajam tikam hingga luka diri berdarah diri melolong nyeri melolong tak henti ke langit tak bertepi membilang duka membilang suka membilang bilang o siapa bertahta dalam diri siapa mengujar dalam diri memaki maki menyumpah sumpah serapah ke segala arah tak ditemu apa tak ditemu mengapa tak ditemu sebab tak ditemu kata tak ditemu kalimat tak ditemu makna tak ditemu hakikat tak ditemu karena tak ditemu arti kabut menari nari di mata hari hari menggelinjang meronta ronta memuntah puntah gelegak dipusar arus di dalam palung rahasia segelap mata matahari menari kabut di matanya

Depok, 13 April 2003


Comments

Popular posts from this blog

Nanang Suryadi Baca Puisi di Setiap Senja

Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB Web Nanang Suryadi

DI PENGHUJUNG OKTOBER

hujan masih terus gemericik. senja kehilangan semburat cahaya. langit warna kelabu. apa kabar puisi? sia siakah penyair mengekalkan segala dalam kata. puisi menggigil di bawah gemericik hujan. langit yang kehilangan semburat cahaya. senja yang menyisakan warna kelabu. apa kabar penyair? apakah sia sia aku dituliskan. puisi menggigil menari di bawah gemericik hujan.