Skip to main content

Renungan Puisi Kepada Penyair

KITA BERCERITA

:ha

kita bercerita
tentang sunyi mendera
lalu menggambarnya
dengan warna-warna
kelabu
seperti dulu

kita bercerita
tentang kesepian kita
lalu menuliskannya
dengan kata-kata
sendu
seperti waktu lalu

kita bercerita
tentang impian segala
lalu mengiringinya
dengan doa-doa
syahdu
seperti dulu

seperti waktu lalu



AKSARA YANG LETIH
:ha

demikian letih aksara
menyimpan rahasia
makna

demikian letih aksara
menyimpan kehendak
makna

demikian letih kita
mengungkap rahasia
makna

demikian letih kita
menyingkap kehendak
makna


MUNGKIN ENGKAU MERINDU

mungkin engkau merindu. saat malam melarut di gelombang bayang. tik
tak jam menderu. berdentang kenang. memburu dirimu.

mungkin engkau merindu. demikian merindu masa lalu.


DI DEPAN CERMIN

ada yang termangu di depan cermin. menerka-nerka siapa gerangan yang
membayang di sana. terasa demikian akrab, sekaligus terasa asing.
seperti maut yang mengendap di detik-detik usia. menggurat di wajah
lelah. memutih di rambut kusut.

ada yang termangu di depan cermin. menerka-nerka, mata siapa yang
menatapnya demikian keruh dan kuyu.


http://nanangsuryadi.blogspot.com

Comments

Popular posts from this blog

Aku Merindukanmu

aku merindukanmu, tapi jarak dan waktu mengurungku o mata, siapa simpan kesedihan di situ, dalam bening sedu sedan tertahan, dalam dada aku merindukanmu, kau harus percaya itu seperti kau tahu, yang merindu menunggu saat memburu tuju!

Contoh Puisi Post modern dan Post colonial

DONGENG HANTU DI KOTA SAJAK Buat: penyair w hantu telah meledakkan mimpi kota kota di malam malam panjang mengerikan sebagai teror yang dicipta dalam koran dan televisi dan film holywood di mana tak ada rambo atau james bond yang mampu mencegahnya karena kesumat telah menjadi seamuk mayat yang dibangkitkan dari kuburnya dengan dendam dan belatung dari borok luka yang penuh darah dan nanah gentayangan menghampiri sajak yang penuh kegelapan bahasa yang telah menjadi sulapan dari dunia kegelapan menghantuimu dengan mulut mulut nganga berbau busuk propaganda tak henti henti dari botol botol minuman impor berlabel franchise formula dan resep paha ayam bumbu tepung menyerbu lambung kanak kanakmu sebagai sampah yang dilesakan ke dalam lapar negara negara dunia ketiga yang mabuk bahasa iklan dan ekstasi yang menjungkirbalikan kepala hingga di bawah telapak kaki para monster yang telah menciptakan frankenstein dan domba dolly berkepala manusia di pesta pora membunuh angka angka data statistik

Nanang Suryadi Baca Puisi di Setiap Senja

Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB Web Nanang Suryadi