Skip to main content

MONOLOG MALAM BAGI ANANDA SUKARLAN

malam, masihkah piano itu berdenting? jemari menari menelusur riwayat rindu, cinta yang amat lekat, apa yang teralamat, padamu

malam, masihkah tangan itu menari dengan ketukan yang demikian ritmis, seperti gerimis, membuatmu miris

malam, kemana akan bergegas mimpi mimpi yang penuh irama, aroma kerinduan yang rona dan semerbak, di ruang ruang lengangmu ini

malam, kenangan selalu datang tibatiba, serupa dejavu kau bawakan kata menyeru puisi

malam, aku menyapamu seperti embun yang pelan pelan menjelma dalam hening, demikian bening, di kuntum bunga

malam, biarlah engkau tetap diam, di puncak diam, berdiam puisi yang paling puisi, berdiam lagu yang paling lagu, berdiam musik yang paling musik

malam, serupa bayang kematian, demikian dirindukan airmata? hapuslah dari matanya yang teramat indah

malam, aku mendengar gemersik kertas, alunan suara, denting piano yang demikian pelan, denting gitar yang demikian parau, cercah perkusi yang mengiris hati. mungkin risau?

malam, metafora yang gelap dan hitam, sedikit cahaya dan ada yang terbaring dalam mimpi

malam, dimana kan kau simpan segala kenang? di dalam lagu yang ragu atau di dalam rabu yang memburu rindu? cintamu yang merdu

malam, apa warna kenangan? hitam yang kelam, atau biru yang langit. demikiankah rindu?

malam, cinta melintas di garis waktu, seperti ada yang menunggu. mungkin dirimu, melagu di hening waktu

Malang, 19 November 2010

Comments

Popular posts from this blog

Aku Merindukanmu

aku merindukanmu, tapi jarak dan waktu mengurungku o mata, siapa simpan kesedihan di situ, dalam bening sedu sedan tertahan, dalam dada aku merindukanmu, kau harus percaya itu seperti kau tahu, yang merindu menunggu saat memburu tuju!

Contoh Puisi Post modern dan Post colonial

DONGENG HANTU DI KOTA SAJAK Buat: penyair w hantu telah meledakkan mimpi kota kota di malam malam panjang mengerikan sebagai teror yang dicipta dalam koran dan televisi dan film holywood di mana tak ada rambo atau james bond yang mampu mencegahnya karena kesumat telah menjadi seamuk mayat yang dibangkitkan dari kuburnya dengan dendam dan belatung dari borok luka yang penuh darah dan nanah gentayangan menghampiri sajak yang penuh kegelapan bahasa yang telah menjadi sulapan dari dunia kegelapan menghantuimu dengan mulut mulut nganga berbau busuk propaganda tak henti henti dari botol botol minuman impor berlabel franchise formula dan resep paha ayam bumbu tepung menyerbu lambung kanak kanakmu sebagai sampah yang dilesakan ke dalam lapar negara negara dunia ketiga yang mabuk bahasa iklan dan ekstasi yang menjungkirbalikan kepala hingga di bawah telapak kaki para monster yang telah menciptakan frankenstein dan domba dolly berkepala manusia di pesta pora membunuh angka angka data statistik

Nanang Suryadi Baca Puisi di Setiap Senja

Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB Web Nanang Suryadi