Skip to main content

Posts

SEORANG ANAK, REMBULAN DAN MATAHARI

rembulan merah darah, tunjuk anak pada langit itu bulan mengapa marah matahari merah darah tunjuk anak pada cakrawala itu matahari mengapa nangis? darahnya leleh pada mata matahari, rembulan mencium seorang anak yang selalu bertanya-tanya dan kata mereka:"syukurlah, tak kau butakan matahati..." Malang, 1993 - 1994 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Pakai

pakailah pakaian itu pakaian yang pantas untukmu tapi jangan kau pakai dengan kesombongan karena kau tak berhak memakai pakaian kesombongan pakailah pakaian yang pantas untukmu yang masih layak sebelum akhirnya rusak dan kau pakai mengelap barang habis pakai Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Ketika Benda

ketika benda benda berubah menjadi seperti manusia. maka engkau akan.dibisiki tiang listrik, dimarahi hujan, diteriaki matahari, dimakan.sendok, diminum gelas. aku menulis puisi. benda benda berebut ingin serupa manusia. di dalam puisi mungkin.engkau dijual rumah. Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Menyapamu

Siapakah engkau? Bayang-bayang samar. Tak ada kaca untuk bercermin. Tak mengenali diri sendiri. Siapa engkau? Demikian lekat di denyut nadi. Kemana ku menghadap? Engkau semata. Tatapmu rahasia. Menembus dalam kalbu Di jalan puisi aku berjalan. Gaduh ramai manusia, tetap sunyi terasa. Demikian sunyi rahasiamu. Demikian teka-teki jalan sunyi. Menujumu Aku menyapamu. Menyapamu dalam geletar tak menentu. Gemetar airmataku menyeru-nyeru, karena kutahu engkau maha tahu, segala rindu. Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Di Penghujung Senja

di penghujung senja engkau menulis sajak, sebuah elegi, yang hendak menelusur jejak: airmata di jemarimu, puisi adalah kandil yang bertahan tak padam, dihembus angin malam "bicaralah, biar sunyi yang akan mengkhidmati," ujar malam kepadamu, yang merasa asing sendiri. "aku ingin menulis sajak, tapi mengapa puisi tak datang padaku?" tanyamu. mungkin puisi enggan datang kepadamu, penyair yang gagal menangkap isyarat, tanda-tanda, yang berulang disampaikan. cerminmu terlalu berdebu Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

di Beranda

di beranda   kubaca tanda tanda tak ada yang perlu dikhawatirkan,   sesungguhnya karena cinta, cintamu semata yang selalu terjaga Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Doa

semoga yang kita lakukan membawa kebaikan bagi diri kita sendiri dan bagi semuanya. kebahagiaan, keselamatan, keberkahan hidup bagi kita semua. keikhlasan dan rasa bersyukur semoga hadir dalam kelapangan dada, menyingkirkan batu-batu kesombongan, kebencian, kedengkian dalam dada. "aku bertawakal kepadamu. sesungguhnya darimu segala mula, dan kepadamu segala akan kembali." Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB