Skip to main content

Posts

Sila kirim Puisi ke fordisastra.com

Bagi rekan-rekan yang ingin mengirim puisi sila kunjungi fordisastra.com , portal sastra Indonesia yang berdiri sejak 2005. Portal Sastra Indonesia ini selain memuat puisi , juga memuat cerpen, esai, novel, biografi sastrawan dll. Sila pasang link blog anda juga di sana, sisipkan di antara karya yang anda kirim. Sekedar informasi Pagerank fordisastra.com saat ini 4, mungkin bisa membantu membacklink blog-blog anda untuk meningkatkan pagerank juga. Sila kunjungi fordisastra.com , portal sastra Indonesia . Sila ditengok juga:   Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB Web Nanang Suryadi

Sajak di Kampung dan Kafe-kafe

Dalam jagat Internet, sastra tumbuh menjadi sesuatu yang tak angker. Belum menghasilkan karya yang cemerlang, tapi orang jadi tak sungkan menulis sajak, cerpen, atau esai—sebagian bahkan sudah diterbitkan menjadi buku. Inilah kisah seputar aktivis sastra cyber. SUATU hari pada tahun 2000. Di sebuah warung Internet di Depok, Gratiagusti Chananya Rompas duduk mencangkung di depan komputer. Tangannya memencet-mencet papan tombol, mengisi kolom-kolom pada tampilan Yahoogroups. Anya, begitu ia biasa dipanggil, belum lama kenal Internet. Tetapi ia tahu, di ranah maya ini bisa terbentuk ruang diskusi. Ia memilih Bunga Matahari sebagai nama milis. Selama beberapa waktu, milis itu hanya beranggotakan dua orang. Anya dan temannya, Danar Pramesti. Keduanya adalah mahasiswa Universitas Indonesia penyuka puisi. Bunga Matahari semula mereka bangun sebagai ajang rendezvous pertukaran puisi antar-mereka. ”Sebelum di milis, kami tuker-tukeran puisi kalau ketemu di kampus,” kata Anya. Kini, enam tahun k...

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Termas...

'Erotisme Religius' Sajak Nanang

Oleh: Ahmadun Yosie Herfanda ‘Erotisme religius’. Barangkali ini istilah yang aneh. Mungkinkah sesuatu yang erotis – yang sangat profan – bisa bercitra religius? Sulit untuk menjawab ya. Tapi, ketika membaca beberapa sajak Nanang Suryadi yang terkumpul dalam buku ini, sebutan ‘erotisme religius’ itu sulit untuk dihindari. Simaklah, misalnya, sajak Penari Telanjang berikut ini, Menarilah engkau dengan telanjang Di matamu matahari di matamu rembulan Dan hujan berderaian dan bintang berpendaran Berderaian pelangi dikibas ke kiri ke kanan Menarilah engkau Berputar menggeliat gelinjang Hingga mengencang syahwat Serindu-rindu akan wajah Kekasih Ah rintih: Kau rinduku! Mabuk kepayangku pada-Mu! Wajah-Mu! Tatap-Mu selalu! Dan kau kelupas segala tabir rahasia Hingga inti hingga tiada lagi jarak Sirna dan tiada Sajak di atas sangat menarik dan bisa mengundang rasa penasaran pembaca. Tanpa menulis ‘Kekasih’ dengan ‘K’ besar, dan tanpa menulis ‘Mu’ dengan ‘M’ besar, sajak di atas cenderung akan m...

Nanang Suryadi: Arthur Rimbaud Nusantara!

Oleh: A. Kohar Ibrahim Di tengah malam sunyi sepi timbul kegairahan, sekalipun di luar langit hitam kelabu keputihan cahaya bumi berselimut salju. Dingin sekali. Selagi dimamah rindu pada Srikandi penggenggam pena di Nusantara, membuka jendela kaca ordina, kudapati sepucuk surat elektronika berisi undangan yang segera menghangati pikiran dan hati. Maka aku sambut senang undangan itu, apalagi yang datang dari seorang penyair bernama Nanang Suryadi. Untuk menikmati sajiannya berupa kumpulan puisi (kupuisi) berjudul Telah Dialamatkan padamu terbitan Dewata Publishing akhir tahun lalu. Kupuisi yang sampulnya indah berupa komposisi paduan yang kontras clear-obscur (gelap-terang), lembut tegar, berat ringan itu memang membikin orang seperti saya segera merasa tergelitik. Senang dalam menikmatinya. Dari bagian pertama sampai yang akhir. Suatu paduan yang hamornis lagi logis isinya aneka ragam warna dengan segala nuansa perasaan dan pemikiran. Betapa tidak. Tiap kata yang dikomposisi bagi judu...

Catatan untuk Sepilihan Sajak Nanang: Banyak Ruang Terbuka

Oleh: Sutan Iwan Soekri Munaf Berhadapan dengan sajak tidaklah sama dengan berhadapan dengan prosa, baik cerita maupun tulisan bentuk lainnya. Bermuka-muka dengan sajak akan menguak pengalaman batin dan pengetahuan pikir serta kemampuan berimajinasi. Jika berhadapan dengan prosa, baik cerita maupun tulisan lainnya, akan terkuak pesan yang ingin dikomunikasikan pengarangnya kepada pembaca, berhadapan dengan sajak maka pembacalah yang diharapkan proaktif menguak pesan yang akan disampaikan penyairnya. Pasalnya, dalam sajak itu banyak ruang terbuka, mengutip kalimat dalam sajak Nanang Suryadi berjudul “Intro” (hlm. 11). Paling tidak, itulah titik berangkat saya saat berhadapan dengan sepilihan sajak Nanang Suryadi berisi 99 sajak dalam kumpulannya berjudul Telah Dialamatkan padamu, terbitan Dewata Publishing tahun 2002 lalu. Saat berhadapan dengan Telah Dialamatkan padamu itu, saya pun diantarkan oleh Ahmaddun Y. Herfanda lewat tulisannya “’Erotisme Religius' Sajak Nanang”. Namun demi...

Menyikapi Internet Sebagai Media Bersastra

JAKARTA—Pembacaan cerita pendek oleh Danarto di QB Book Store saat peluncuran Graffiti Imaji oleh Yayasan Multimedia Sastra pekan lalu adalah sebuah momen menarik buat para penulis yang selama ini cukup produktif di dalam situs internet. Terbitnya kumpulan cerita pendek—memuat 83 karya yang dipilih oleh Sapardi Djoko Damono, Yanusa Nugroho, dan Anna Siti Herdiyanti—ini menguatkan posisi karya sastra dalam dunia internet. Seiring perkembangan teknologi, internet menjadi alternatif media bagi seniman untuk berkarya. Tak heran, banyak situs yang kemudian bermunculan untuk mewadahi kreativitas para sastrawan. Salah satunya adalah www.cybersastra.net. Situs yang dibentuk oleh Yayasan Multimedia Sastra ini nyatanya mampu menjadi wadah yang memadai. Buktinya, telah dua buku diterbitkan oleh Yayasan Multimedia Sastra yang mater...