Skip to main content

Tarian Zarathustra



seperti pijar, ingatan, kau menarikan derita manusia, di padang
terbuka, musik letusan, begitu merdu, debu itu pakaianmu selalu,
wajah bengis atau rintih pilu, pertaruhkan: inilah cinta itu
sayangku, tikaman pada jantung, 35 butir peluru bersarang di tubuh,
inilah darah, tarian purba, zarathustra, zarathustra....

mengapa disembunyikan wajahmu? dalam senyum, sedang hunus di tanganmu
siap tikam menikam. lunaskan segera. lunaskan!

seekor gagak berekor gagak, berjuta burung nazar berkaok-kaok,
mengendus-ngendus, bau dari tanganmu. sayap hitam. paruh tajam.
mencucuk-cucuk daging...

ah, derita manusia...derita manusia...




Comments

Popular posts from this blog

Nanang Suryadi Baca Puisi di Setiap Senja

Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB Web Nanang Suryadi

DI PENGHUJUNG OKTOBER

hujan masih terus gemericik. senja kehilangan semburat cahaya. langit warna kelabu. apa kabar puisi? sia siakah penyair mengekalkan segala dalam kata. puisi menggigil di bawah gemericik hujan. langit yang kehilangan semburat cahaya. senja yang menyisakan warna kelabu. apa kabar penyair? apakah sia sia aku dituliskan. puisi menggigil menari di bawah gemericik hujan.