Skip to main content

DI SAAT SENJA AKU DIMABUK KATA

di sebatas senja, selalu puisi datang tiba-tiba. malam mencium cahaya, memeluknya demikian mesra. remang yang menggetarkan

di desah napas di hembus napas kau rasakan hangatnya? sebagai deru yang memburu, ciuman yang memabukkan

apa kabar malam, seru matahari yang direnggut kelam. mereka saling merindukan, di secarik senja

di remang cahaya, segala bisa menggila, juga kata. aku dimabuk kata. kata menari-nari di dalam kepala. menggila. gila

setiap senja, aku menandai langit, dengan tatap kehilangan. serupa kenangan, kukira

aku menyapa senja, dan senja menyapaku dengan redup cahaya

tataplah hujan di saat senja, mungkin kau akan temukan pelangi di langit, mungkin juga wajah yang kau rindu, tersenyum padamu

tataplah remang cahaya di saat senja, disana berkumpul rasa kehilangan dan perjumpaan. cahaya dipagut gelap. sunyimu kian membekap.

hujan di luar, gemiricik yang gaib. serupa ingatan yang tak habis. tentang aku yang kuyup di bawah senja.

mungkinkah butir hujan yang menguyup rambutku, adalah airmata senja?

kudengar: “akulah senja, yang kau cinta, karena demikian fana”


Malang, 2011

Comments

Popular posts from this blog

Aku Merindukanmu

aku merindukanmu, tapi jarak dan waktu mengurungku o mata, siapa simpan kesedihan di situ, dalam bening sedu sedan tertahan, dalam dada aku merindukanmu, kau harus percaya itu seperti kau tahu, yang merindu menunggu saat memburu tuju!

Contoh Puisi Post modern dan Post colonial

DONGENG HANTU DI KOTA SAJAK Buat: penyair w hantu telah meledakkan mimpi kota kota di malam malam panjang mengerikan sebagai teror yang dicipta dalam koran dan televisi dan film holywood di mana tak ada rambo atau james bond yang mampu mencegahnya karena kesumat telah menjadi seamuk mayat yang dibangkitkan dari kuburnya dengan dendam dan belatung dari borok luka yang penuh darah dan nanah gentayangan menghampiri sajak yang penuh kegelapan bahasa yang telah menjadi sulapan dari dunia kegelapan menghantuimu dengan mulut mulut nganga berbau busuk propaganda tak henti henti dari botol botol minuman impor berlabel franchise formula dan resep paha ayam bumbu tepung menyerbu lambung kanak kanakmu sebagai sampah yang dilesakan ke dalam lapar negara negara dunia ketiga yang mabuk bahasa iklan dan ekstasi yang menjungkirbalikan kepala hingga di bawah telapak kaki para monster yang telah menciptakan frankenstein dan domba dolly berkepala manusia di pesta pora membunuh angka angka data statistik

Nanang Suryadi Baca Puisi di Setiap Senja

Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB Web Nanang Suryadi