Posts

Showing posts from November 12, 2007

Antropomorfisme

ketika penyair itu bertamu ia membayangkan lengan kursi itu memeluknya seraya bercerita tentang kaki langit yang jenjang hingga pelangi berjuntai-juntai menyentuh kaki gunung dan mulut gua menjadi nganga terkagum-kagum dan menepuk bahu jalan yang menggelendot manja di dekat ngarai itu

Litotes

aku tak sanggup lagi menuliskan kata-kata menjadi puisi menjadi

Personifikasi Matahari, Hujan, Tiang Listrik

beri aku puisi, katamu suatu ketika. matahari malas mendengar kata-katamu, ia segera pergi ke balik malam. dan hujan yang tiba-tiba marah mencurahkan dingin ke kepalamu, seraya berteriak: inilah puisi. tiang listrik tertawa-tawa, mungkin lucu rasanya: penyair minta puisi. puisi? dimana kiranya. mungkinkah puisi sedang sakit dan sekarat. sehingga ia tak pernah datang. seperti dulu, mengetuk-ngetuk jendela tak siang tak malam tak petang tak subuh. beri aku puisi, katamu. kepada siapa. entah siapa.

Simile Matamu

Sebagai langit hitam tak kunjung hujan, karena kesedihan bergelayut tak berkesudahan

Hiperbola

membaca sebaris puisi dan ia orgasme berulang kali

Metafora

adalah mimpi-mimpimu yang tersangkut di dahan kata-kata dan orang menyebutnya puisi adalah embun yang tiba-tiba menggantung di pelupuk mata penamu tak henti menari karena, engkau adalah .....

hopla!

aku pungut puing puisi dari segala kenang yang membayang aku pungut puing kata dari segala tawa yang meluka inikah teka teki membilang huruf di anagram nasib hopla! siapa itu menari?

Popular posts from this blog

Aku Merindukanmu

Link Arsip Puisi Nanang Suryadi

Archive

Show more

Labels

Show more