Posts

Showing posts from December 30, 2010

Sajak Di Akhir Tahun

di akhir tahun ini, apa yang coba kau ingat, apa yang coba kau lupakan?

angka angka telah berguguran, dari kalender, hari yang kau lewati, hari yang kau khidmati, dengan langkah tak henti

mungkin ingin kau lupakan kekalahan demi kekalahan, kesedihan demi kesedihan, peristiwa yang menyakitkan

mungkin kau abadikan segala yang membuatmu bahagia. sebagai kenang. sebagai bayang.

huruf huruf yang gemetar di jemarimu, menanda hari berganti, jam berganti, detik berganti

apa yang telah kau lakukan, apa yang telah kau rencanakan, apa yang telah kau katakan, apa yang telah kau inginkan

30 Desember 2010

Adalah Jiwamu yang Haru

: erland

suara yang bening yang hening adalah jiwamu yang haru, menitikkan airmata bagi derita, menitikkan airmata bagi bagia

puisi tercipta dari udara yang bening, terkadang bising, kau menjadi gema bagi suara suara, suara suara yang tak pernah didengar

anak anak yang memanggul cobek di bawah hujan, membuat haru dirimu, seperti puisi yang kau cium dari keringat derita, o kanak siapa?

sisakan sedikit cahaya

sisakan sedikit cahaya untukku, kata ranting kepada matahari, di saat
senja, menunggu burung kembali ke sarangnya, di ranting itu

mungkin di dalam kekosongan

mungkin di dalam kekosongan kau temukan jeda, hiruk pikuk dunia telah
menyihirmu bergerak tanpa henti. diamlah sejenak. temukan kekosongan.

Rahasia Puisi

apa yang dibocorkan puisi kepadamu? mungkin semacam rahasia yang disembunyikan di dalam kepala dan dada, di dalam rindu yang tak terkata

seperti ditandai pada waktu

seperti ditandai pada waktu, kelahiran, jodoh dan kematian, sebagai sebuah kehendak yang mungkin tak kita pinta

Kunang-Kunang

kunang-kunang beterbangan di jernih air, kunang kunang beterbangan di bersih udara, seperti kurindu kutemu di mata kanakku dulu

Sebatang pohon kamboja

:untuk asep sambodja

Sebatang pohon kamboja, bunga-bunganya mewangi, di pemakaman airmata, akan terus tumbuh dan hidup dalam kenangan dan cinta kami.

9 Desember 2010

Pengampun

ALLAH maha pengampun, tapi sudahkah kita minta ampun atas segala aniaya pada diri sendiri?

Nasehat

ketika kita tak mau bersyukur, maka kita akan jadi orang yang serakah. ketika kita tak mau bersabar, maka kita jadi orang pendendam.

MENUNGGU HUJAN REDA

Kau punya payung cadangan. Atau kenangan. Semacam kau cadangkan gurau menunggu hujan. Dengan derai tawa.

PADA DAUN DAUN YANG JATUH

Sebuah suara, daun yang letih, menunggu tunas-tunas tumbuh.

PADA JAM YANG TERUS BERDETIK

Kau menunjuk waktu. Meminta waktu berhenti. Agar kau terdiam dalam bagia tersimpan. Saat itu.

DI BENING MATAMU

Ada yang tersimpan, mungkin kebahagiaan. Yang kau cadangkan, saat duka menghunjammu.

DI SAAT HUJAN

Tidakkah kau ingin sisakan airmata. Agar tak semua sampai ke lautan sedihmu. Sisakan sedikit untukku, saja.

DI SISA WAKTU

Mungkin ingin kau cadangkan harap, semacam rencana-rencana kecil. Di waktu yang tersisa. Tak cuma sia-sia.

SURAT YANG KAU TULIS

Sudah sampai. Ke alamatmu kembali.

Menulis Rindu

Kutulis rindu itu di angin lalu, agar sampai kepadamu, cintaku.

Tak henti hujan menulis

Tak henti hujan menulis di tanah, parit, sungai, muara, sampaikan rindu kepada laut yang menunggu.

Ada Yang Menulis Isyarat

Ditulisnya isyarat, namun tak ada yang mengerti, semata rahasia yang menyimpan rindunya.

Ditulisnya nama

Ditulisnya nama itu di kaca yang mengembun, hingga sengat matahari menghapusnya. Dan ia menunggu embun esok pagi.

malam malam di bulan desember

malam malam di bulan desember menyimpan hujan, menyimpan cerita yang disampaikan awan kepada angin, isyarat yang tak sampai

Hanya

Ia menulis dengan tinta airmata, hanya sanggup dibaca dengan kacamata cinta

di rabumu di rabuku

hembuskan ke dalam rabuku, cintamu yang tulus, agar ku berbahagia, bersamamu, bersama cintamu

di rabumu di rabuku ada ruh yang dihembuskan, yang bersaksi yang berserah, menempuh jalan Cinta.

Mungkin Hanya

mungkin hanya keluh yang kau dengar, mungkin hanya gaduh yang kau dengar, mungkin hanya aduh yang kau dengar, ah senyumMU

kubisikkan di telingamu kata-kata

kubisikkan di telingamu kata-kata, serta nama-nama, namaku namamu nama anak-anak kita, sebagai ingatan, bahwa kita berbahagia

lihatlah bibirku mengeja, agar kau tahu sejarah sedang kubaca, dari matamu yang menyimpan peristiwa, diriku yang mencinta

cintaku, dengarlah degup jantungku, kau akan temukan ombak, memburu pantai, menyeru-nyeru

aku menggigil di buku sejarah

aku menggigil di buku sejarah, merasa sepi di antara letusan peluru dan simbah darah, ah kuasa, ah kekuasaan, siapa yang menatah? mungkin ingin kau hapus huruf, buku-buku sejarah yang tak ingin kau baca, karena pengkhianatan meluka sepanjang masa





Google+ Followers

Archive

Show more

Labels

Show more