Posts

Showing posts from March, 2011

Silakan Pesan Buku Puisiku BIAR

Image
Sebentar lagi buku kumpulan puisiku akan terbit. Diterbitkan oleh indiebook corner, buku berjudul BIAR ini sudah dapat dipesan mulai sekarang. Silakan isi kolom komentar. Atau kirim pesan di email: nanangsuryadi@yahoo.com twitter: @nanangsuryadi facebook: http://facebook.com/nanangsuryadi dengan menulis alamat kirim dan jumlah pemesanan.

Harga perbuku: 30.000 + ongkos kirim. Silakan ditransfer melalui:
BRI KCP Unibraw 0579-01-015778-50-2
Atas nama: Nanang Suryadi

kata menjelma nada

@rickyzv

seketuk demi seketuk
kata menjelma nada

dalam nadimu

o, pemusikku,
bikinkan aku tangga

nada ke langit: cintaku

Malang, 2011

Yang Ingin Mencipta

@ikavuje

ada yang meliar,
mematuk-matuk angan,

mungkin engkau
yang ingin mencipta

dunia mimpi, menjadi...

Malang, 2011

Sepeda Beroda Empat

:ngkongparto

mungkin masih kau ingat,
sepeda beroda empat

yang tergeletak di garasi itu

usaplah debunya,
walau sepeda roda dua kini kau punya

Malang, 2011

ada bintang yang jauh

:supernopha

ada bintang yang jauh;
supernova

lihatlah
dia menyendiri

sepi
di langit tak bertepi

Jemari Menari

:jemarimenari

menarilah
jemari menari

melukis udara kosong
dengan jemari

menarilah jemari
mengukir hari

menatah mimpi

Malang, 2011

Seperti Keriangan Kanak

:hotfashionholic

menarilah
seperti keriangan kanak

yang tak henti berbahagia

tertawalah,
karena akan sepi mimpi,

tanpa tawamu gembira

Malang, 2011

ADA YANG INGIN MELUPAKAN MEI YANG GADUH

:lsamlkaskus

tak ada lagi yang mau mengingat mei yang gaduh. karena kepedihan itu, huruf huruf yang ingin segera dilupakan. yang ada hanya tanya: mengapa?

dan kita menjadi penjawab yang selalu gagap, gelegap meraba gelap, tanpa tahu jawab

Malang, 2011

kami menanam pohon cinta

kami menanam pohon
cinta

riwayat yang beranting,
berdaun, berbunga, berbuah

buah-buah yang baik,
kan dipanen kelak

Malang, 2011

Sang Pemberontak

: bemz_q

o sang pemberontak,
menyeru langit

penuh rindu! penuh rindu!

"apa maumu?
ah, kutahu Kau Cinta padaku!",

serumu

Malang, 2011

sepenuh diam

:arcokimzy

diamlah diam
sepenuh diam

rasakan sunyi
mengalir,

menderas
di dalam dirimu

sebagai alir air,
sunyi mengalir

mengaliri kering dahagamu

Malang, 2011

Surabaya Pagi Hari

surabaya. surabaya. sarapan pagi. secangkir kopi. tahu telur bumbu. nikmat sekali

surabaya. surabaya. matahari pagi menerobos jendela. burung bernyanyi di sangkar bambu. menjerit. memekik, di pagi yang menyimpan sunyi

pagi, hanya udara sunyi. hiruplah udara. sebelum sengat matahari!

Surabaya, 2011

Dalam Diam

;anjie & ruth dk

dalam diam,
semesta sunyi menjelma

dalam diam,
gemuruh dada terasa

Langit Yang Biru

:erie kotak

langit yang biru
seperti kenanganmu yang biru

tengadahlah,

pada keluasan langit
ada kenang yang membayang

demikian biru
demikian haru

Memandang Foto Keluarga Rafael

:Nathaniel, Rafael Yanuar & Istri

memandang foto itu. ikan-ikan berenang di bening air. kulihat juga harap yang menatap hidup. demikian indah. demikian ramah.

mungkin hanya cinta yang dapat menterjemah. sebuah tatap. menghadap. langit harap. mata yang bening. doa yang mengiring.

dengar kecipak ikan. di bening air. dengar nyanyi alam. dengar tangis manja nathan. ah, hidup yang sempurna. engkau dan kekasihmu

sebagai doa doa yang selalu dirapalkan untuk orang-orang tercinta. doamu yang akan sampai mengetuk pintu cintaNya.

Malang, 3 Maret 2011

hanya doa keikhlasan menghantarmu

:ags arya dipayana

hanya doa keikhlasan menghantarmu, menemu cinta yang abadi, asalmula diri

telah usai segala kerja, telah banyak kau beri arti, telah sampai di garis penghabisan, selamat jalan

kami akan mengenangmu, kebaikan yang kau miliki, makna yang kau beri, cinta yang menjelma nyata, ladang amalmu

selamat jalan mas ags arya dipayana, sampaikan juga salam ke kang asep sambodja di sana

Malang, 2 Maret 2011

Wahai Engkau Yang Merindu

wahai engkau yang merindu, menarilah, dengan segala nyeri, biar sunyimu kabarkan, cintamu demikian bersahaja

telusuri derai yang merinai, angin yang membelai, inginmu yang ramai merindu damai. dalam semerbak sajak apa yang kau tebak, selain sebuah kehendak. langit redup mengaca hidup kian gugup. berapa mawar yang kau pinta, duri menusuk jemari, cinta yang nyeri

yang terbakar cemburu akan membakar cintamu akan meledakkan segala yang kau punya meledakkan mimpimimpimu hingga tak berbekas

apa yang ditakutkan dari kepergian, mungkin takut akan kehilangan, sesuatu yang bukan milik kita, sesungguhnya

telah dilarung duka yang murung, karena airmata meluruh ke dada rapuh

berkumpullah airmata, di telaga kenang. dan kau apungkan perahu kertas di atasnya. agar sampai ke pedih ke rindu yang sempurna.

Malang, 2011

JIKA SAJAK KENA PAJAK

beri aku jajak agar kutahu pajak udara yang kuhirup air yang kureguk tanah yang kupijak sejak sajak menjejak ajak

jika sajak kena pajak, berapa harus kubayar untuk membuat sajak cinta?

Malang, 2011

JIKA ENGKAU | Puisi Cinta

jika engkau adalah senja, akulah semburat cahayanya, begitulah cinta mengucap pada dunia

jika engkau adalah airmata, akulah asinnya, demikianlah cinta, memberi tanda di dalamnya

jika engkau langit yang mendung, akulah matahari yang menunggu, bersama gerimis melukis pelangi

jika engkau adalah awan mendung, maka aku adalah hujan yang mencintaimu demikian abadi

jika engkau adalah langit, maka aku adalah kelepak burung menghias keluasan tak terhingga

Malang, 2011

MENEMU AGNASKY | Puisi untuk Sahabat

ciremai. ciremai. aku ingin datang. mendaki puncak sajakmu. bersama hasan, bertemu agnasky. suatu hari.

di puncak ciremai, seekor ulat bulu menggeliat, terabadi di dalam kata. di dalam sajak. menggeliat di kenangku kini.

Malang, 2011

APAKABAR JAKARTA, BEMZQ? | Puisi tentang Kota

ah, jakarta, apa yang membuat kenangan penyair bangkit. deru kereta di stasiun gondangdia menghantarku ke depok margonda raya?

kenangku melayang layang di langit jakarta. bersama deru bajaj sepanjang jalan cikini raya. ah, lampu merkuri masihkah merindu aku?

tataplah lampu merkuri, di emperan tim dinihari, jejak jemariku yang mungkin kian samar, di gelas gelas kopi

sebuah sajak, tak hendak terpejam. malam seharum ruap kopi, menyihir kata menggila puisi.

Malang, 2011

Memburu Cahaya | Syair Malam

aku rangkai kata, menjadi syair malam, agar engkau tahu, dalam pekatnya mengukuhkan cahaya rembulan

aku menyapamu, dengan cahaya bulan, di langit yang benderang, seterang jiwamu yang cinta

laron yang mengepakkan sayap rapuhnya itu, adalah aku, memburu cahaya cintamu

Malang, 2011

YANG SENDIRI, DAN SELALU MERINDU, MUNGKIN DIRIMU

apa yang sudah kau siapkan, februari merah jambu. sepotong coklat, sekuntum mawar, secarik puisi kau simpan, untuk siapa yang tak kau tahu

adakah yang ingin bersembunyi. dalam vakum waktu. karena gigil tak berkesudahan. kabar dari negeri jauh. cinta yang merapuh

sebagai demam, rindu menggigilkanmu. kenangan demi kenangan, melintas lintas saja. di tubir waktu ada yang bergegas.

ada yang mencatat, demikian rapi, mungkin engkau, demikian sabar. walau rindu, tetap menunggu.

di luar jendela, hujan. di dalam kamar, kesunyian. ada yang menyapa, hujan dan kesunyian. ada yang mengetuk waktu

14 Februari 2011

Menyapa Jakarta Senja

aku menyapa jakarta senja, bola matahari jingga terpantul di kaca kaca. apa kabar jakarta? sudah lama kita tak berjumpa.

apa kabar jakarta senja? menyapa kedatanganku, inilah wajah ibukota, gedung menjulang, rumah kumuh berseberangan got hitam warnanya

aku menyapa jakarta senja, masih seperti dulu, ingatan tahun tahun yang terpendam. jakarta yang kutinggal pergi, tapi aku tetap kembali

aku menyapa jakarta senja, macet yang sama, kesibukan yang sama, orang orang ingin bergegas, tapi jakarta menahan kepulangan

aku hisap udara jakarta senja, orang orang berteriak: nurdin turun, entah dimana nurdin, siapa nurdin, kamu tahu?

aku tak asing dengan keringat jakarta senja, keringat dalam bis kota, kereta rakyat yang padat menumpuk, pengamen sepanjang perjalanan

aku menyapamu jakarta senja, sesekali aku akan datang, menemu kenang. tapi kini aku harus segera pulang. selamat tinggal!

Jakarta 24 Februari 2011

Surabaya Hujan Hingga Larut Malam

surabaya. hujan yang turun perlahan. hujan yang kesepian. di malam minggu. mungkin sepertimu. tersedu sedu

surabaya. hujan yang tak juga berhenti. gemericiknya demikian ghaib. mencucur dari langit hitam. langit malam.

surabaya. surabaya. aku hirup udara malam hujan. malam yang menyimpan mimpi mimpimu. pada nyala lampu membelit pepohonan.

surabaya. surabaya. malam yang lembab. basah. rimis tak habis. rimis yang miris. demikian tiris. demikian ritmis.


Surabaya, 29 Januari 2011

Aku Menunggumu Membakar Malam

:sigit pradito, bambang purnomo, arifunnatik, yayan triyansyah, asmara sastra, irwan bajang, dhanzo

aku menunggumu membakar malam dengan galau yang mengacau lintas waktu hingga sirna segala parau dan derau di hidupmu yang sengau

aku menunggumu membakar malam dengan sajak penuh cemburu atau cinta yang bertalu hingga sampai keluh pada aduh yang paling gaduh

aku menunggumu membakar malam dimana engkau memberi tanda baca pada kalimat kalimat tak beralamat memberi jejak pada kehendak atau takdir

aku menunggumu membakar malam di tungku waktu tentukan di garis mana akan berpacu takdir atau kehendakmu segala yang bermula akan berakhir

aku menunggumu membakar malam dengan segala mimpi bayang-bayang membayang cahaya bulan meretakkan kenang imajinasi membusur memburu. buru!

Malang, Februari 2011

Surabaya, Di Atas Loteng Tiang Tanpa Bendera

aku mengeja tembok tembok yang kukuh angkuh. lampu lampu menyeringai dari sebuah kota. yang menyimpan deru dari masa lalu. merasuki diriku.

surabaya. surabaya. malam menelusur ke dalam kepalaku. merasuk ke dalam jiwaku. sejarah yang melepuh. di tiang bendera yang kosong.

1910 ditanda, bulan juni tepatnya. meneer mulai membuka hotel di soerabia.

meneer, aku menziarahimu di malam jumat ini. aku rasa engkau ada di atas balkon itu. tersenyum. oranye kesukaanmukah? cintamu, mungkin.

Surabaya 17 Februari 2011

aku mengetuk-ngetuk kepalaku sendiri: tuk.tuk.tuk. ada orang di situ?

"ah terkutuklah segala yang mengacaukan hidupku. terkutuklah segala yang tak memberi makna bagi hidupku!" orang yang bosan menunjuk taktentu

aku mengetuk-ngetuk kepalaku sendiri: tuk.tuk.tuk. ada orang di situ? kepalaku pusing, menjawab: ya, ada kamu di situ. mengutuk melulu.

"tataplah matahari. kau kan tahu silaunya. kau kan tahu panasnya." diriku berteriak kepada diriku yang menatap monitor tak henti-henti. lihat!

huruf-huruf berlesatan. bergegas tanpa henti. mengusir nyeri dalam dada. o dada yang kosong. dada yang tak henti memuntahkan kekosongan.

jam jam memabukkan. di lintasan waktu, aku merasa bosan. menatap huruf yang kian asing. kian mengubur diriku dalam pengap sepi. o, sepi!

Malang, Februari 2011

CINTA YANG TAK PERNAH PUTUS ASA

bibir yang bergumam, adalah engkau, menggumamkan kata yang entah, cinta yang entah, rindu yang entah, kepada siapa

tapi para penyair adalah pecinta yang mencinta kita tanpa putus asa, kabarkan cinta lewat kata di jemarinya

seperti para petani adalah pecinta yang tak pernah putus asa mencinta kita, lewat jemarinya menanam, memupuk, merawat cinta

Malang, 2011

puisi selalu cemburu pada hidup yang nyaman

: sigit pramudito, ziplesshyde, yayan, bajang, bemzq

angin berhembus di sela sela jendela. engkau merangkai gerimis yang jatuh. dari mata itu, kenang mulai menggenang.

ada yang mengerjap, mungkin harap. ada yang mengusap airmata, dari mata yang sembab.

mungkin ada yang tak mau pergi dari dalam kepalamu. meriuh. menggaduh. seperti waktu. mengetukmu penuh rindu.

bara terus menyala, di dalam kepala, lelaki yang terapung, terhempas gelombang, tak mati juga

ada yang ingin berdiam, dalam tenteram. tapi puisi kukira, selalu cemburu pada hidup yang nyaman

Malang, 2011

MENERA WARNA DARAH

yang meremah, adakah mawar merah, yang merekah saat kau marah? dan durinya menusuk jemari!

yang merona adalah warna, jemarimu menera nama, sepenuh cinta, mewarna dunia dengan merah. darah

Malang, 2011

Dentang Kenang, Tatap yang Ratap

melati yang kau nanti, telah mekar bersama mawar, menanti terus menanti sentuhmu, demikian debar

mungkin kau temukan tatap sebagai ratap, kenang sebagai dentang, cinta sebagai pinta, di mata yang maha

segala yang haru mungkin membiru, memburu rindumu yang mengharu biru, di hari yang haru

yang menyesap airmata demikian lesap, adalah engkau yang merindukan kenangan demikian lindap

Malang, 2011

UNTUK PARA PENGGALAU DI LINTASAN WAKTU

mungkin engkau demikian galau, demikian racau, karena rindu mendesau derau hatimu, hingga kacau balau

mungkin engkau demikian galau, dengan segala racau, karena hatimu terasa kacau balau di saat angin rindu mendesau derau

mungkin engkau merindu, dengan segenap ragu, apakah yang kau rindu juga merindu dirimu

serupa galau yang kacau, hanya derau, dalam puisi yang parau. bukan sekadar gurau ternyata, cinta....

Malang, 2011

SERUPA DAUN DI DAHAN YANG LETIH

engkau serupa daun, di dahan yang letih, menunggu kabar, kapan angin mencium, memagutmu demikian mesra. hingga abadi

sebagai demam, rindu menggigilkanmu. kenangan demi kenangan, melintas lintas saja. di tubir waktu ada yang bergegas.

Malang, 2011

AKU MENYAPAMU DI LINTASAN WAKTU

: hasan aspahani, erie kotak, yayan triyansyah, sigit prmaudito, bemz_q, Zipless

aku menyapamu, di lintasan waktu, melintas di jalan sunyi, dirimu sendiri

di linimasa di lintasan waktu ada yang mengenang, segala kenang, segala yang muncul hilang.

di larut malam, adakah yang ikut melarut, mungkin kata yang melaut di keluasan sunyi, di keluasan semesta diri

di malam malam begini, hujan menjelma puisi, yang tak henti mengajakku bernyanyi, serupa sunyi menyanyi: ada yang melagu, mungkin rindu, mungkin cemburu, gemanya dibawa angin lalu

Malang, 2011

Ada yang merintih, Mungkin Hujan

:aan mansyur

ada yang merintih, mungkin hujan, di malam yang ingin puisi, di malam yang ingin semerbak mimpi

doa doa telah menghujan, bagi cinta yang ingin bertahan, di rumah rumah yang ramah, di rumah kita istirah dari lelah

mungkin engkau bertanya tentang niat hujan rencana hujan kehendak hujan. yang mengetuk ngetuk atap. perlahan saja. perlahan saja....

malam menyelinap pada sajak yang senyap. menghujan kata menghujan rahasia. sehitam malam serahasia kelam.

Malang, 2011

Engkau adalah Kesabaran Tak Terbantah

engkau adalah kesabaran tak terbantah, mengajarkan aku untuk tabah

akulah debar yang selalu menunggu kabar, cintamu. engkau demikian samar, aku merindu, gemetar

di saat aku terjaga, aku bahagia, kau masih menjagaku dengan mata cinta

akulah batu, yang kau dorong gulirkan berulang kali, karena kau tahu aku mencintaimu

engkau adalah sunyi, selalu menghiburku dengan airmata

rindu adalah airmata yang kau peram, dan kau setia untuk menunggu

seperti kudengar: “mengalirlah mengalir ke muara, hingga sampai padaku, lautmu yang sabar menunggu”

Malang, 2011

ADA YANG

ada yang berguguran dari langit, mungkin namamu, mungkin bukan namamu

ada yang katakan rindu padamu, tapi hanya di bibir yang menipu

ada yang merasa sunyi, langit tak berbisik lagi. hanya ada kelebat, semacam kata yang tersesat. engkau, rindu yang nyeri

ada yang gundah, menatap hidup yang kian entah. ada yang menggigil, hadapi hidup yang degil. embunkan dengan cintamu!

ada yang mencercah, di mata harap sesal terpecah

ada yang meretak, di dalam cermin dia berteriak

Malang, 2011

KUPU-KUPU DAN BUNGA

sabarlah, kata embun kepada kupu. sebentar kan mekar bunga yang kuncup. bersabarlah, jika kau benar mencinta.

kupu berkata kepada bunga: “aku ingin menulis puisi tentang kita, agar kuncup hatimu menjadi mekar yang terkabar”

Malang, 2011

KEPADA PENYAIR, PEJALAN MALAM

engkau yang menembus hujan, engkau yang menembus malam, engkau yang menembus ketidakpastian, dengan keberanian

ada yang gaduh, di dalam kepala bertabuh. ada yang mengaduh, menyimpan keluh kemana cinta kan berlabuh

mungkin puisi bisa menghiburmu, dari rasa sia sia dan putus asa, juga niat bunuh diri

o, engkau yang meresah galau, menelusur hari hari hari gaduh yang membuatmu mengaduh, berapa cinta kau pinta?

mata siapa yang mengintip ke dalam palung jiwamu, yang penuh gelegak api, neraka yang menghanguskan

beri aku kata penuh metafora, sebagai puisi yang menyemburkan api dari kedalaman jiwamu, manusia sepi

sebaris luka, di bait yang sama, hanya doa penuh cinta yang sanggup menyembuhkannya
aku mencinta dengan keras kepala, karena puisi mengajarkan ketabahan, dari derita dan luka

siapa yang meramalkan jari jemari, memeta garis tangan, penyair yang sepi, menyalakan api di dinihari begini
bulan meretak, cahayanya telah dipungut bayang bayang, sunyi kian mengelam, di mata membayang

Ma…

DI SAAT SENJA AKU DIMABUK KATA

di sebatas senja, selalu puisi datang tiba-tiba. malam mencium cahaya, memeluknya demikian mesra. remang yang menggetarkan

di desah napas di hembus napas kau rasakan hangatnya? sebagai deru yang memburu, ciuman yang memabukkan

apa kabar malam, seru matahari yang direnggut kelam. mereka saling merindukan, di secarik senja

di remang cahaya, segala bisa menggila, juga kata. aku dimabuk kata. kata menari-nari di dalam kepala. menggila. gila

setiap senja, aku menandai langit, dengan tatap kehilangan. serupa kenangan, kukira

aku menyapa senja, dan senja menyapaku dengan redup cahaya

tataplah hujan di saat senja, mungkin kau akan temukan pelangi di langit, mungkin juga wajah yang kau rindu, tersenyum padamu

tataplah remang cahaya di saat senja, disana berkumpul rasa kehilangan dan perjumpaan. cahaya dipagut gelap. sunyimu kian membekap.

hujan di luar, gemiricik yang gaib. serupa ingatan yang tak habis. tentang aku yang kuyup di bawah senja.

mungkinkah butir hujan yang menguyup rambutku, adal…

Aku Tulis Syair Malam

:commaditya, erie kotak, dodo, adriany, dwihatmodjo

aku tulis syair malam, di sunyi yang hening, dinihari yang bening, mengusap pelupuk langit, mencucur airmata. telah disiapkan peta, pada telapak, para pecinta menghapalnya dalam kepala, tak kan risau engkau, tak. mungkin kau ingin rapalkan sajak, pada hari yang mula, sebuah keberanian bernama cinta, yang tabah dan bersahaja. seorang lelaki menulis sajak, dinihari mencahaya, kabarkan maha cinta maha cahaya.

Malang, 2011

Tangis

:anjie

adalah rasa bahagia
yang menyapa tiba tiba

mungkin semacam cinta

adalah saat segala kesah
ingin ditumpah

mengalir ke muara segala mula

Merunduklah Sebenar Merunduk

kita mengendap pada cuaca yang lindap, berbekal harap, bertemu tatap. merunduklah sebenarnya merunduk, sayang, karena kita memang hanya padi ditidurkan angin. apa yang ingin kita sombongkan, sayang, kita tak punya apa apa, selain cinta. kebahagiaan itu, sayang, detik demi aku mencintaimu, dengan rasa syukur tak terhingga.

Malang, 2011

Cinta yang Menaklukkan Segala Aniaya!

:bagi Indonesia terluka

dari dadamu pecinta, dari matamu pecinta, dari pekikmu pecinta, cahaya menerang, cinta yang cahaya!

para pecinta berteriak memekikan cinta sepanjang waktu, langit menjadi saksi, bumi menjadi penyaksi, yang tak pernah sangsi

wahai para pecinta, katakan cinta menaklukan segala aniaya, segala duka cita. jangan menyerah kepada para penjarah!

para pecinta tak membedakan waktu. karena waktu demikian fana. para perindu selalu mencinta, demikian keras kepala

wahai engkau yang merindu, menarilah, dengan segala nyeri, biar sunyimu kabarkan, cintamu demikian bersahaja

menarilah, menari, di langit bulan separuh. angin memagut sepimu. menarilah, wahai pecinta

karena engkaulah pecinta, dunia tetap merasa bahagia, langit pun bahagia


Malang, 2011

Sunyi Sebenar Sunyi Meliputinya

sunyi sebenar sunyi meliputinya. sunyi yang ingin dinikmatinya sendiri. jangan kau ganggu. hingga pertapa menemu. masuk telinga ruci. tak ada kepastian baginya. hanya dirinya sendiri. bertarung dengan gelombang. pemikirannya sendiri. lautan api di kepalanya.

Ada

ada yang gundah, menatap hidup yang kian entah

ada yang menggigil, hadapi hidup yang degil

ada yang merasa bosan, tak ingin lagi mengirim pesan

ada yang merasa sunyi, langit tak berbisik lagi

ada yang berkelebat, semacam kata yang sesat

ada yang meretak, di dalam cermin dia berteriak

ada yang mencercah, di mata harap sesal terpecah

jangan menari zarathustra, jika kau tak tahan pedihnya

: sigit pramudito

jangan menari zarathustra, jika kau tak ingin amuk pedihnya. jangan! jangan menari zarathustra, jika masih ingin menemu daratan harapan. jangan! hanya manusia yang kuat, mampu menarikannya. bukan manusia cengeng dan cepat putus asa.

dengarlah sabda zarathustra:

"kanon adalah tugu dan AKU cemburu ingin menghancurkan! hancurkan tugu! penari zarathustra akan segera merayakannya. segera!


AKUlah penari. penari gelombang lautan. akulah laut. menarikan darah. karena AKU hendak kuasa! hendak kuasa!

karena kalian telah menjadi thesa, aku akan menjadi antithesa."


begitulah sabda sang penari: Zarathustra

Malang, Surabaya, 2011

setiap senja aku ingin menulis puisi

setiap senja aku ingin menulis puisi, sebaris dua baris kepenatan yang tersisa, agar terurai agar memuai lebur dalam kata, sebuah senja.

apa kabar? magrib menyisakan gema azan, di langit yang jauh, di tanah yang jauh, masihkah kau dengar, degup yang tersisa dari sebuah rindu surga yang jauh

aku tulis sajak ini, karena waktu demikian fana, dan kata akan abadi

seperti kita yang mengeja perjalanan, setapak demi setapak, luka demi luka, rindu demi rindu, cinta demi cinta, begitulah sajak akan kembali

mungkin kau risau, labil dan galau, seperti ingin kau tancapkan pisau di dadamu, agar parau nyeri sampai ke titik pedihnya. tapi untuk apa?

ah segala risau enyahlah, segala galau punahlah, segala racau leburlah, segala kacau menyatulah. hiduplah hidup dengan tegar! dengan iman! rindu yang mengental, cinta yang selalu terjaga. kasih sayangnya semata.

Malang, 2010-2011

Kata-kata Menari Sendiri, Penyair Ternganga Saja. Biar!

Halo, sore yang membahasakan gerimis. Gerimis yang itu itu juga. Halo, siapa kamu? di jam jam yang sibuk. Menata usia. Menatap gerimis

Gerimis yang kusapa malu malu. Gerimis yang sama baik di desa atau di kota. Kami sering mengundangnya datang ke dalam puisi

Gerimis yang tib-tiba saja melebat. Mengguyur ke dalam baris -baris kata yang menjeratnya. Gerimis yang melebat. Hujankah namanya?

Hujan? Siapa memberinya nama demikian. Kamus-kamus disusun dari kejadian dan pengucapan. Kesilapan dan kealpaan. Tapi mengapa hujan?

Kami sering mempertanyakan sesuatu yang mungkin tidak perlu. Kami belajar bahasa dari tanya. Apakah tanya selalu terjawab? Tanya kami

Hujan yang tak habis habis. Tanya kami pun tak habis habis. Menggelontor selokan. Membanjir di jalan-jalan. Kenapa banyak sampah?

Apa yang cantik dari hujan? Gerimis? Senja? Tanya kembali bertanya. Mengapa penyair demikian senang menuliskannya?

Mengapa luka? mengapa kenangan? kata teman kami bertanya. Apakah cinta bukan sebuah harapan? Kebahagiaan…

Yang Merambat dari Bicara

:komunitas fiksimini

di dinding,
lukisan menggantung
cerita malam yang merangkak,

kesah yang melambat rambat

yang merambat dari bicara,
rentetan peristiwa,
derai tawa canda,

ah dunia memang milik kita

Ada Orang Mati, Malna

orang orang menyimpan asap. di jalan raya indonesia. malna, dimana bahasa. dimana kuasa. dimana identitas. ada yang mati malna. ada. bahasa

ada yang mati malna. orang-orang berbaju hitam. bahasa telah disalahpahami. juga cinta. seperti anjing menggonggong. malam itu. jam patah.

ada orang mati, malna. ada orang mati. jam sudah berangkat. ada pringadi yang rindu kamu. menulis dari tubuh. modernitas yang mati, malna.

Malang, 2011

Wahai Maha Cinta, Aku Bertanya

: Indonesia terluka

Kami selalu berteriak: “mengapa kau menukar cinta dengan kebencian? mengapa kau sampaikan cinta dengan bahasa umpatan dan kebengisan?”

hitam. hitam. hitam. hitam. hitam. hitam. kemana cahaya? senyum-MU yang cahaya.

jika dunia adalah goda, jangan asingkan aku dengan riuhnya. karena aku merindu, cinta-Mu yang sesungguhnya

mengapa tak hanya sunyi, Cintaku? seperti di dalam rahim ibuku, cinta Kau tiup menjadi diriku.

aku melangkah di jalan cinta, berliku menujumu, terjal berbatu. aku menyeru-Mu!

"Aku adalah Cinta. Aku adalah Cinta. Aku adalah Cinta. Muara segala ucap yang berbeda".

o, aku adalah cinta yang menggigil di tengah pekik dan alir darah airmata duka manusia

Malang, 2011

Pada Sajak Kutahu

ada yang menulis cemburu di baris baris sajaknya, hingga kutahu ada yang merindu serupa sembilu

ada yang menulis cinta di baris-baris sajaknya, hingga kutahu ada bahagia di balik derita

ada yang menulis luka di baris-baris sajaknya, hingga kutahu pedihnya mencinta


Malang, 2011

Aku Tahu Engkau Demikian Pencemburu

aku tahu engkau demikian pencemburu, dan cinta itu, selalu saja untukmu. kutahu, karena engkau begitu pencemburu

karena cintaku padamu adalah sebuah kutuk, maka aku tak pernah berhenti mengetuk, pintumu

setetes airmata, setitik luka, jarak yang direntang. tiktak jam, menitik letak. dimana engkau sembunyi? tak kutahu

menembus malam, menembus batas kabut yang menyelimut, cinta tak akan berhenti menyeru, dirimu

di setiap waktu engkau tetap terjaga, menjaga cinta tetap menyala

Malang, 2011

aku ingin menulis puisi yang paling bahagia, agar engkau tertawa, tak terus berduka

:kunthi hastorini

walau duka dan bahagia, hanya airmata yang berkata kata

tapi, tataplah bening mata kanak, kau akan temukan cinta dan bahagia di sana, sebagai puisi penuh metafora

mungkin kau rasakan juga bahagia terkabar, telur dadar yang kumasak, harum kopi yang kau seduh, semerbak mengisi dadaku, cinta yang teramat sederhana, tapi istimewa

lihatlah juga atta, arya, altaf, rama, satria bermain bola, demikian riang, di taman yang menyimpan dingin dan angin, kanakkanak yang bahagia

cinta adalah kebeningan di mata kanakkanak kita, seperti doamu, seperti doaku, seperti doa kita

doaku selalu, kita berbahagia dengan segala karunia, bersyukur dengan cinta yang kita punya

lihatlah, telah terang dunia, cahaya pagi, cahaya matahari, seperti harap kita, berguna bagi sesama, berarti di alam semesta

tersenyumlah, karena senyummu mekar bunga bunga, di jiwaku

dengan cinta aku bekerja, dengan bekerja aku buktikan cinta, gerak dalam pikiran, gerak dalam hati, gerak dalam perbuatan

selarut malam ini aku masi…

Di Penghujung Tahun

: bagi kalian yang berharap cemas di ujung tahun

ada yang melagu, kabarkan rindu, kabarkan rindu padamu. di panggung yang merangkai waktu di matamu.

ada yang menari, mungkin ingatan, melambailambai, semacam rindu, melulu rindu, dan waktu lalu membeku

apa yang kau inginkan, apa yang kau inginkan, di tahun mendatang? katakan dengan lantang, katakan. mungkin ingin kau gapai bintang.

apa yang dikabarkan terompet padaa kembang api yang sebentar menerang indah dan akan padam, tinggal asap, tinggal senyap

sebentar lagi, sebentar lagi, waktu berdetik menuju titik yang kita sebut sebagai tahun, tahun baru

angin tak juga berhenti menderas, di akkhir desember di awal januari, mungkin membuat cemas, dan gigil menatap harap di tahun yang menyimpan rahasia hari hari

: rahasia diri

Malang, 1 Januari 2011

Google+ Followers

Archive

Show more

Labels

Show more