Posts

Showing posts from 2006

Contoh Puisi Senja Yang Indah

SEPERTI SENJA YANG SUNYI DEMIKIAN PUISI senja yang sunyi, demikian sunyi, seperti puisi, seperti sunyi yang senja, demikian senja, seperti puisi, seperti senja yang puisi, demikian puisi, seperti sunyi, seperti puisi yang senja, demikian senja seperti sunyi, seperti puisi yang sunyi, demikian sunyi seperti senja, seperti senja yang senja, demikian sunyi seperti puisi, seperti sunyi yang sunyi, demikian puisi seperti senja, seperti puisi yang puisi, demikian sunyi seperti senja, seperti...

Contoh Puisi dari Kehidupan Anak-anak yang Menarik

RAHASIA : sdd dan hah 1. di sore yang gerimis, awan menyapa hujan: "maukah engkau kuberitahu rahasia?" namun tiba-tiba angin memberat hujan melebat, dan awan, dia kembali tak sempat 2. di dingin yang khusuk, kayu menyapa letik api "maukah engkau kuberitahu rahasia?" namun tiba-tiba angin menghardik, api berkobar, dan kayu, dia kembali tak berkutik ATTA MENGGAMBAR BUNGA :cahaya "atta" hastasurya ayah tak bisa menggambar bunga, atta saja, pasti bisa atta menggambar bunga, anggrek yang bunda siram, sudah berbunga bunganya kuning, merah, ada bintik-bintik hitam juga atta menggambar bunga, di lantai dan tembok rumah bunda bilang jangan, ayah tertawa-tawa atta menggambar bunga, di mana-mana bunga bertumbuhan, bermekaran bersama tangan cahaya Malang, 2006 ATTA :cahaya "atta" hastasurya ayah, sini, ta tu dua, tiga, pat, nam, juh, pan, iyan, eyuh, eyas atta berhitung sampai sebelas tapi lupa satu dan lima ayah, sana, jayan-jayan escin escin atta mengambil

Contoh Puisi Ironi dari Berita Koran

Dari Sebuah Tajuk: 7 Orang Tewas Terkena Ledakan Gas 7 orang tewas sia-sia, katamu. sederet huruf tebal yang kau lirik sepintas. mungkin tak ingin segera kau baca mengapa dan dimana. mungkin tak ingin kau bayangkan bagaimana mereka meregang nyawa. di semburan gas atau lumpur panas. tak ingin segera kau ketahui berapa jumlah sebenarnya yang tewas. karena ingin segere kau tulis sajak cinta. sajak penuh aroma bunga. di pagi berteman secangkir kopi. hari ini

Contoh Puisi dari Berita Kriminal

Dari Sebuah Tajuk: Seorang Ibu Memakan Bayi Panggang ayah, sudah baca berita hari ini? bunda tak sanggup membacanya. lihat ini, ada seorang ibu memakan bayinya sendiri. bayi panggang. aduh, mengapa ada ibu tega seperti itu. kata orang sih, dia gila. tapi aduh, kok bisa orang gila hamil dan melahirkan bayi? kapan dia menikah. dan bayinya apakah memiliki ayah. atau mungkin dia diperkosa. beramai-ramai. aduh, dunia semakin gila. ayah, bunda tak mau membaca koran dan menonton berita.

Contoh Puisi Cinta Untuk Istri Tercinta

Untukmu :kunthi aku ingin menulis sajak, untukmu seperti dulu mungkin tentang hujan yang turun di saat senja sebagai puisi yang diam-diam kutuliskan hujan perlahan menyapa dengan ingatan aku ingin menulis sajak, untukmu seperti dulu mungkin tentang pelangi yang melengkung di saat senja tapi tak kutemu pelangi, di langit, matahari baru saja pergi tak menyisakan cahaya aku ingin menulis sajak untukmu, seperti dulu, seperti dulu di waktu kita dimabuk rindu Malang, 2006

Contoh Puisi tentang Berita Koran dan Kehidupan Sosial

Dari Sebuah Tajuk: Ibu Membunuh Bayinya Sendiri :hah seorang ibu membunuh bayinya sendiri. ini berita keberapa. berita yang sama di tahun ini. apakah akan ditaruh di tajuk utama. dengan huruf judul tebal. dengan foto bayi berlumur darah dan leher membiru? lebih biru dari masa depannya. bayi yang teramat lucu. dan mungkin ia akan menjadi pelukis. atau penyair yang menyukai warna biru. atau merah seperti warna yang menghantarnya menghirup udara. tapi tangan itu, merenggut udara. merenggut mimpinya. yang mungkin berwarna biru. atau putih. seperti yang diingatnya untuk terakhir kali. putih mata ibunya

Di Lengkung Alis Itu, Yo...

Di Lengkung Alis Itu, Yo... di lengkung alis matanya adalah harap di lengkung alis matanya adalah rindu dimana sunyimu menuju dimana jejakmu ditanda dimana mimpimu digariskan dimana tawamu dideraikan adalah lengkung alis yang mencakrawala adalah lengkung alis yang menghias bumi adalah lengkung alis yang merangkum semesta adalah lengkung alis yang menjadi puisi puisi menjadi dirimu Malang, 2006

Dari Sebuah Tajuk

Dari Sebuah Tajuk: Orang Dibakar : hah ada berita apa hari ini, seperti kubaui hangit orang terbakar. mungkin ada yang ingin mencatat dengan tergesa. dalam berita. atau puisi. apa bedanya. tapi mungkin ada yang hanya ingin mengekalkannya dalam ingatan. atau mungkin ada yang ingin segera melupakannya. seperti biasa. seperti biasanya Dari Sebuah Tajuk: Orang Bunuh Diri :hah masih berita yang hampir sama dengan kemarin: orang bunuh diri, katamu. mengapa bukan huruf bunuh diri. mungkin akan jadi puisi. orang-orang murung. menatap nasib hitam warnanya. di huruf-huruf besar tajuk utama. huruf-huruf murung. menatap tajam pisau. mengingat beliak mata. saat puisi menikam jantung sendiri.

Blitar

Blitar apa yang kau pikirkan, diantara jalan menikung menanjak menurun, lihatlah: perbukitan gundul apa yang kau bayangkan, diantara kepungan kemarau ranggas hutan jati lihatlah: pemakaman umum apa yang kau ingat diantara ladang ladang sawah mengering lihatlah: pasir batu apa yang kau tulis diantara alir kecil sungai kaki gunung kelud lihatlah: nasib sendiri 2006

Bendungan Selorejo

Bendungan Selorejo itu ikan apa? katamu, mungkin sambil membayangkan hidup di dalam keramba dijual ikan mas koki, wader, gurami segar atau dibakar. itu ikan apa? katamu mungkin sambil mengingat irisan pisau ke perut dijual ikan betik, bekutuk, mujahir hidup atau mati itu ikan apa? kataku menunjuk ikan di dalam puisi 2006

Sajak Kota Kota

Cilegon angin kemarau, sampai di dada galau sederet kenang, mengucap selamat datang! 2006 Bojonegara dimana titik henti: di jalan berlubang, pelabuhan kemarau, bebatu gunung, pepohonan meranggas tumpas dimana jejak kan bertanda: pada langkah lungkrah jika gelombang sampai disini, siapa akan menyimpan ngeri: badai mimpi 2006 Rumah Dunia :gola gong, yo, dino, dedi, qizink lingkar percakapan, jalin menjalin puisi, tawa, cerita, teks berloncatan, menari di halaman terbuka, di mimpi terbaca di rumah dunia 2006 Lumajang :atta dan bunda menembus siang menembus malam, kemarau dimana-mana, tapi tak di airmata di senyumku menatap binar mata 2006

Puisi Ulang Tahun Pernikahan

Menjelang 18 Oktober :kunthi hastorini 1. aku ingin menulis lagi, pada serpih hari yang gugur dari penanggalan seperti puisi yang diam diam membayang di pelupuk mata terpejam 2. tanggal berapa sekarang, bisikmu sebagai tanya yang sama dalam bayang, rentang usia menata bata demi bata di hidup kita 17 Oktober 2006 Aku Ingin Menulis Lagi Aku ingin menulis lagi: Mungkin tentang dongeng, manusia lumpur yang tiba-tiba datang ke dalam mimpiku Mungkin tentang waktu yang tiba-tiba membiru seperti jam yang meleleh di kanvas salvador Aku ingin menulis lagi: Mungkin mengisi kekosongan jeda di dalam dada hingga hari-hari menjadi hibuk sibuk memaknai tanda Mungkin seperti sediakala menulis tentang cinta dan cinta di hari hari menua dan uban memenuhi kepala Aku ingin menulis lagi. dan lagi. tentang cintaku kepadamu selalu! 17 Oktober 2006 BAHKAN JIKA rabalah dadaku, dengar detak di dalamnya, sebagai puisi: "bahkan jika waktu tak lagi ada, di surga atau neraka kita akan tetap bersama bahkan jika

MANUSIA LUMPUR

MANUSIA LUMPUR oi mata lamur, tubuhku berlumur lumpur oi mata lamur, ini bukan lulur manjur oi mata lamur, ini nasibku semakin ancur semprur! (eh, semprul) 17 Oktober 2006 EDDY DAN RENDRA HARUS PINDAH RUMAH eddy temanku. hari ini dia tidak ngajar. rendra mahasiswaku. hari ini dia tidak kuliah. cari kontrakan 2,5 juta rupiah. bayangkan amat susah. susah amat dibayangkan. eddy dan rendra belum membaca sajakku. tapi aku sudah membaca surat mereka. hari ini mereka tidak ke kampus. rumah mereka terendam lumpur. dan aku hanya menulis sajak. hanya... 19 Oktober 2006

Segala Akan Kembali Pada Mula

Segala Akan Kembali Pada Mula :inongharis.com kembalilah puisi, pada awal mula cinta kembalilah cinta, pada awal mula kata kembalilah kata, pada awal segala mula kembalilah, dengan segenap doa menghantar engkau ke hariba-Nya Malang, 1 September 2006 in memorium Anna Siti Herdiyanti (Inongharis)

KAWI dan YANG KITA BUTUHKAN ADALAH

KAWI siapakah yang kau cari di situ, pada putih kabut mendung langit dingin udara rinai gerimis melayarkan ingatan pada wajah leluhur tak kau kenal, hanya nama yang ditoreh pada batu dan buku putih kabut mendung langit dingin udara rinai gerimis menyapa sepanjang jalan pendakian antara wajah lelah penziarah, lengang masjid, torehan prasati, harum dupa, wangi bunga, pohon dewandaru, kertas ciamsi, nyala lilin, dewi kwan im, cwimie malang…. apa yang kau cari di situ pada putih kabut mendung langit dingin udara rinai gerimis menziarahi diri berulang kali dengan ingatan pada perhitungan nasib baik dan buruk, peruntungan dan kesialan, kebahagian dan kesedihan kawi – malang, 13-14 Juli 2006 YANG KITA BUTUHKAN ADALAH yang kita butuhkan adalah: kerendahatian ketika diri gelisah mencari jawaban siapa diri yang kita butuhkan adalah: penerimaan ketika diri menyesal tak gapai mimpi-mimpi yang kita butuhkan adalah: kejujuran ketika diri diselimuti dusta tiada henti yang kita butuhkan adalah: kasih

Contoh Puisi Untuk Sahabat, Kawan, Teman Penyair

ADA YANG MENGERJAP DI LANGIT SUBUH Ada yang mengerjap di langit subuh, mungkin puisi, yang tak memejamkan mata walau sekejap menggoda dengan sihir kata, hingga malam membuka rahasianya hingga sunyi mengembun di pelupuk matanya DONGENG PEMULUNG WAKTU : hasan aspahani aku teringat dongengmu itu: pemulung waktu, sepertinya aku sering bertemu sepanjang perjalanan berliku, tak henti mengawasiku mengikut jejak bayangku jika kutoleh, ia tersenyum dan menyapaku, seakan menyeru: mana waktu untukku? sedang aku bergegas tak tentu entah kemana menuju namun pemulung itu mengikuti melulu mungkin menunggu terus menungguku menyerah di puncak sunyiku di nol waktu PUISI BERTAMU PAGI-PAGI segelas besar kopi harum sekali, menyambut puisi bertamu pagi pagi. belum sempat aku mandi, berbenah rumah biar rapi selamat pagi puisi, silakan dihirup aroma panas kopi. mari, ini bikinan sendiri sedap diteguk di dingin begini puisi meneguk kopi terasa nikmat sekali “apa kabar diksi dan imaji?” aku bertanya pada puisi

ZIKIR

ZIKIR :dato kemala 1. sebagai gema menyelinap di sunyi getirku sebagai bisik rindu melintas pintu pintu langit ingin menemu awal akhir segala sesuatu 2. sebagai gema didawam-dawam nama dicinta cinta di dalam dada ia bertahta ##### SAPA SIAPA kata siapa punya siapa sapa siapa pada siapa ####### AKU MEMAMAH aku memamah kata kukira akan jadi makna aku memamah diksi kukira akan jadi puisi aku memamah sunyi kukira akan jadi bunyi aku memamah sepi kukira tak akan jadi nyeri seperti ini ####### 3308071973 :ns sebagai percakapan membunuh waktu: "duka bahagia ada pada detik nikmatilah sebelum detikmu berhenti" tiktik detik jam memburu waktu dengan tanya berjuta detik bertiktik di jam hidupku hingga akhirnya hingga saatnya detik akan berhenti di puncak segala puncak duka bahagia di titik di nol detik-Mu

Contoh Puisi Menghadapi Bencana Alam dengan Sabar

Aku Ingin Menciummu aku ingin menciummu langit yang memar bumi yang gemetar karena linu ngilu lindu gemeretak di sekujur tubuhmu aku ingin menciummu dengan senyuman dengan doa ketulusan karena kesedihan kusimpan diamdiam dalam rongga kesunyian aku ingin menciummu dengan kata dengan cinta karena ingin kau terima segala dengan bahagia malang, 1 juni 2006

Cahaya Namamu Cahaya

Image
Cahaya Namamu Cahaya : Cahaya Hastasurya cahaya namamu cahaya secerlang mata bunda secerlang 8 surya di dalam dada ayah lihatlah burung bermandi cahaya lihatlah air memantul cahaya lihatlah rindu ayah memburu cahaya cahaya namamu cahaya dalam doa malam subuh siang senja cahaya menerang terang dunia cahaya namamu cahaya dalam isak dan tawa ayah bunda dipeluk cinta kau selalu bahagia

Dan Rindu Menggeletar

Dan Rindu Menggeletar dan rindu menggeletar, kata-kata menyesat di dalam sel otakku, seperti burung-burung yang menjerit mencari sarangnya dan rindu mengada di jejemari puisi, membadai di ruang dada sunyiku, sebagai luka, sebagai nganga, sebagai sunyi, sebagai pinurbo meraba darah lambung kiriku biarkan aku menjerat kalang kabut sliweran kata, hingga....

Contoh Puisi Sufi

Sesayap Terbang Sesayap Merapuh sesayap terbang sesayap terbang menuju tuju sesayap terbang sesayap terbang merapuh rapuh simorgh! teriakmu ini nyeri tak letih merindu huwa humma hum hiya humna hu! hu! hu! hu! hu!

Sebiru Ingatan

Sebiru Ingatan demikian biru ingatan menjejak silam menapak kata demi kata ke puncak tiada ke puncak tak segala tiada demikian biru ingatan menelusup ke dalam nganga sunyi luka demikian biru ingatan hingga mimpi mimpi menjelma dalam puisi tak berhingga hingga tiada hingga semua tiada hingga Engkau adanya

Ada Siapa Ada

Ada Siapa Ada ada siapa menyapa di sebalik tirai kabut menyeringai mungkin detak waktu menyeru nyeru di dada sendiri di jantung sendiri hingga hilang denyutnya hingga ada siapa di balik tirai hingga merindu hamzah merindu fansuri merindu attar merindu rumi merindu tardji merindu engkau menemukan siapa tapi manusia tetap serupa musa terjerembab di tursina tak sanggup menatap cahaya Maha Cahaya Maha Cahaya Engkau Siapa?

Di Depan Televisi

Di Depan Televisi :freeport di depan televisi, mulutku nganga ada batu menimpa kepala siapa tak kutahu nama juga pangkatnya di depan televisi, mulutku nganga ada batu menimpa kepala dilempar siapa ingin teriakkan aduh, entah pada apa di depan televisi, mulutku nganga tak mengerti mengapa ada yang tega aniaya malang, 17 maret 2006

Tunggulah Aku

Tunggulah Aku tunggulah aku, dengan segenap rindu dan tulus cintamu. di kesenyapan dan gigil udara, mengembang rinduku, menyapamu. cintaku sarangan, 17 Februari 2006

Contoh Puisi Tentang Wisata Alam

Di Tepi Telaga Sarangan sarang kabut. putih menyapa pinus cemara. keheningan telaga. aku merindukanmu. andai engkau di sini. berdekap selalu, aku dalam hangat cintamu. cintaku

SENJA MURAM LANGIT HITAM

senja muram langit hitam lembah kelam puisi silam melayanglah kenang melayang layang memburu rindu menemu debu menyeru deru menemu jemu ahoi, mabuk aku di sunyi sendiri menari-nari di puncak sepi menoreh puisi berdarah deras sekali

KAU MASIH MENUNGGUKU

Kau masih menungguku? di rekaat tergesa di ambang waktu enggan menyapa Kau masih menungguku? dengan segenap rindu dan cintaMu Kau masih menungguku? di kesibukan tak tentu di jejak menghablur samar wajahmu kau masih menungguku? dengan segenap keteduhan haribaMu Kau masih menungguku? aku merinduMu Cahaya mula-mulaku

MENGINGAT SEBUAH JAWABAN

dari langit serupa kenang benderang menerang terang sebuah jawab lewat tatap mungkin tangis pertama dan terakhir di dunia demikian fana

Puisi Malam

MALAM MELARUT HUJAN MELAUT malam melarut ke kelam-hitamnya hujan melaut ke muara-sepinya sepi dan gigil mencari-cari berdesing angin berdesing-desing merapalkan mantera rahasia sebagai bisik o merintih rintih ini langkah sampaikah pada tepi menjejak tapak pudar memuai seperti hujan seperti malam melarut ke kelam hitamnya melaut ke muara sepinya mengekal di ketiadaan

Puisi itu, Asan

Puisi itu, Asan :hah aku melirik puisi, dia sedang terduduk bersandar di sofa, mukanya sedikit tertekuk, aku tersenyum sendiri di dalam hati, karena kutahu dia sedang menanti, menanti dan menanti. sebentar lagi kataku, meremangkan bisik rahasia, hingga engkau menjadi...

Contoh Puisi Kesunyian Pelaut

KESUNYIAN ITU :nzibs kesunyian itu kabut mengambang di pelupuk maut engkau menari dari kalut ke kalut larut pada kenang segala raut ambang rembang petang menjelang melayang kenang disayang-sayang ahoi, ribuan jarak menemu mimpi tak terperi tak terberi

ODE BAGI DAUN KATA

ODE BAGI DAUN KATA ode bergaung sampai ke penghujung hidup menari-nari di relung renung berkelebat daun kata sepi menari-nari ah, para perindu berarak ke segala mimpi menyanyi menari di peluk sepi berulangkali terlahir mati tak pernah henti malang, 28 Januari 2005

Popular posts from this blog

Aku Merindukanmu

Link Arsip Puisi Nanang Suryadi

Archive

Show more

Labels

Show more