Skip to main content

Posts

Showing posts from March 2, 2011

Menyapa Jakarta Senja

aku menyapa jakarta senja, bola matahari jingga terpantul di kaca kaca. apa kabar jakarta? sudah lama kita tak berjumpa. apa kabar jakarta senja? menyapa kedatanganku, inilah wajah ibukota, gedung menjulang, rumah kumuh berseberangan got hitam warnanya aku menyapa jakarta senja, masih seperti dulu, ingatan tahun tahun yang terpendam. jakarta yang kutinggal pergi, tapi aku tetap kembali aku menyapa jakarta senja, macet yang sama, kesibukan yang sama, orang orang ingin bergegas, tapi jakarta menahan kepulangan aku hisap udara jakarta senja, orang orang berteriak: nurdin turun, entah dimana nurdin, siapa nurdin, kamu tahu? aku tak asing dengan keringat jakarta senja, keringat dalam bis kota, kereta rakyat yang padat menumpuk, pengamen sepanjang perjalanan aku menyapamu jakarta senja, sesekali aku akan datang, menemu kenang. tapi kini aku harus segera pulang. selamat tinggal! Jakarta 24 Februari 2011

Surabaya Hujan Hingga Larut Malam

surabaya. hujan yang turun perlahan. hujan yang kesepian. di malam minggu. mungkin sepertimu. tersedu sedu surabaya. hujan yang tak juga berhenti. gemericiknya demikian ghaib. mencucur dari langit hitam. langit malam. surabaya. surabaya. aku hirup udara malam hujan. malam yang menyimpan mimpi mimpimu. pada nyala lampu membelit pepohonan. surabaya. surabaya. malam yang lembab. basah. rimis tak habis. rimis yang miris. demikian tiris. demikian ritmis. Surabaya, 29 Januari 2011

Aku Menunggumu Membakar Malam

: sigit pradito, bambang purnomo, arifunnatik, yayan triyansyah, asmara sastra, irwan bajang, dhanzo aku menunggumu membakar malam dengan galau yang mengacau lintas waktu hingga sirna segala parau dan derau di hidupmu yang sengau aku menunggumu membakar malam dengan sajak penuh cemburu atau cinta yang bertalu hingga sampai keluh pada aduh yang paling gaduh aku menunggumu membakar malam dimana engkau memberi tanda baca pada kalimat kalimat tak beralamat memberi jejak pada kehendak atau takdir aku menunggumu membakar malam di tungku waktu tentukan di garis mana akan berpacu takdir atau kehendakmu segala yang bermula akan berakhir aku menunggumu membakar malam dengan segala mimpi bayang-bayang membayang cahaya bulan meretakkan kenang imajinasi membusur memburu. buru! Malang, Februari 2011

Surabaya, Di Atas Loteng Tiang Tanpa Bendera

aku mengeja tembok tembok yang kukuh angkuh. lampu lampu menyeringai dari sebuah kota. yang menyimpan deru dari masa lalu. merasuki diriku. surabaya. surabaya. malam menelusur ke dalam kepalaku. merasuk ke dalam jiwaku. sejarah yang melepuh. di tiang bendera yang kosong. 1910 ditanda, bulan juni tepatnya. meneer mulai membuka hotel di soerabia. meneer, aku menziarahimu di malam jumat ini. aku rasa engkau ada di atas balkon itu. tersenyum. oranye kesukaanmukah? cintamu, mungkin. Surabaya 17 Februari 2011

aku mengetuk-ngetuk kepalaku sendiri: tuk.tuk.tuk. ada orang di situ?

"ah terkutuklah segala yang mengacaukan hidupku. terkutuklah segala yang tak memberi makna bagi hidupku!" orang yang bosan menunjuk taktentu aku mengetuk-ngetuk kepalaku sendiri: tuk.tuk.tuk. ada orang di situ? kepalaku pusing, menjawab: ya, ada kamu di situ. mengutuk melulu. "tataplah matahari. kau kan tahu silaunya. kau kan tahu panasnya." diriku berteriak kepada diriku yang menatap monitor tak henti-henti. lihat! huruf-huruf berlesatan. bergegas tanpa henti. mengusir nyeri dalam dada. o dada yang kosong. dada yang tak henti memuntahkan kekosongan. jam jam memabukkan. di lintasan waktu, aku merasa bosan. menatap huruf yang kian asing. kian mengubur diriku dalam pengap sepi. o, sepi! Malang, Februari 2011

CINTA YANG TAK PERNAH PUTUS ASA

bibir yang bergumam, adalah engkau, menggumamkan kata yang entah, cinta yang entah, rindu yang entah, kepada siapa tapi para penyair adalah pecinta yang mencinta kita tanpa putus asa, kabarkan cinta lewat kata di jemarinya seperti para petani adalah pecinta yang tak pernah putus asa mencinta kita, lewat jemarinya menanam, memupuk, merawat cinta Malang, 2011

puisi selalu cemburu pada hidup yang nyaman

: sigit pramudito, ziplesshyde, yayan, bajang, bemzq angin berhembus di sela sela jendela. engkau merangkai gerimis yang jatuh. dari mata itu, kenang mulai menggenang. ada yang mengerjap, mungkin harap. ada yang mengusap airmata, dari mata yang sembab. mungkin ada yang tak mau pergi dari dalam kepalamu. meriuh. menggaduh. seperti waktu. mengetukmu penuh rindu. bara terus menyala, di dalam kepala, lelaki yang terapung, terhempas gelombang, tak mati juga ada yang ingin berdiam, dalam tenteram. tapi puisi kukira, selalu cemburu pada hidup yang nyaman Malang, 2011

MENERA WARNA DARAH

yang meremah, adakah mawar merah, yang merekah saat kau marah? dan durinya menusuk jemari! yang merona adalah warna, jemarimu menera nama, sepenuh cinta, mewarna dunia dengan merah. darah Malang, 2011 

Dentang Kenang, Tatap yang Ratap

melati yang kau nanti, telah mekar bersama mawar, menanti terus menanti sentuhmu, demikian debar mungkin kau temukan tatap sebagai ratap, kenang sebagai dentang, cinta sebagai pinta, di mata yang maha segala yang haru mungkin membiru, memburu rindumu yang mengharu biru, di hari yang haru yang menyesap airmata demikian lesap, adalah engkau yang merindukan kenangan demikian lindap Malang, 2011

UNTUK PARA PENGGALAU DI LINTASAN WAKTU

mungkin engkau demikian galau, demikian racau, karena rindu mendesau derau hatimu, hingga kacau balau mungkin engkau demikian galau, dengan segala racau, karena hatimu terasa kacau balau di saat angin rindu mendesau derau mungkin engkau merindu, dengan segenap ragu, apakah yang kau rindu juga merindu dirimu serupa galau yang kacau, hanya derau, dalam puisi yang parau. bukan sekadar gurau ternyata, cinta.... Malang, 2011

SERUPA DAUN DI DAHAN YANG LETIH

engkau serupa daun, di dahan yang letih, menunggu kabar, kapan angin mencium, memagutmu demikian mesra. hingga abadi sebagai demam, rindu menggigilkanmu. kenangan demi kenangan, melintas lintas saja. di tubir waktu ada yang bergegas. Malang, 2011

AKU MENYAPAMU DI LINTASAN WAKTU

: hasan aspahani, erie kotak, yayan triyansyah, sigit prmaudito, bemz_q, Zipless aku menyapamu, di lintasan waktu, melintas di jalan sunyi, dirimu sendiri di linimasa di lintasan waktu ada yang mengenang, segala kenang, segala yang muncul hilang. di larut malam, adakah yang ikut melarut, mungkin kata yang melaut di keluasan sunyi, di keluasan semesta diri di malam malam begini, hujan menjelma puisi, yang tak henti mengajakku bernyanyi, serupa sunyi menyanyi: ada yang melagu, mungkin rindu, mungkin cemburu, gemanya dibawa angin lalu Malang, 2011

Ada yang merintih, Mungkin Hujan

:aan mansyur ada yang merintih, mungkin hujan, di malam yang ingin puisi, di malam yang ingin semerbak mimpi doa doa telah menghujan, bagi cinta yang ingin bertahan, di rumah rumah yang ramah, di rumah kita istirah dari lelah mungkin engkau bertanya tentang niat hujan rencana hujan kehendak hujan. yang mengetuk ngetuk atap. perlahan saja. perlahan saja.... malam menyelinap pada sajak yang senyap. menghujan kata menghujan rahasia. sehitam malam serahasia kelam. Malang, 2011

Engkau adalah Kesabaran Tak Terbantah

engkau adalah kesabaran tak terbantah, mengajarkan aku untuk tabah akulah debar yang selalu menunggu kabar, cintamu. engkau demikian samar, aku merindu, gemetar di saat aku terjaga, aku bahagia, kau masih menjagaku dengan mata cinta akulah batu, yang kau dorong gulirkan berulang kali, karena kau tahu aku mencintaimu engkau adalah sunyi, selalu menghiburku dengan airmata rindu adalah airmata yang kau peram, dan kau setia untuk menunggu seperti kudengar: “mengalirlah mengalir ke muara, hingga sampai padaku, lautmu yang sabar menunggu” Malang, 2011

ADA YANG

ada yang berguguran dari langit, mungkin namamu, mungkin bukan namamu ada yang katakan rindu padamu, tapi hanya di bibir yang menipu ada yang merasa sunyi, langit tak berbisik lagi. hanya ada kelebat, semacam kata yang tersesat. engkau, rindu yang nyeri ada yang gundah, menatap hidup yang kian entah. ada yang menggigil, hadapi hidup yang degil. embunkan dengan cintamu! ada yang mencercah, di mata harap sesal terpecah ada yang meretak, di dalam cermin dia berteriak Malang, 2011

KUPU-KUPU DAN BUNGA

sabarlah, kata embun kepada kupu. sebentar kan mekar bunga yang kuncup. bersabarlah, jika kau benar mencinta. kupu berkata kepada bunga: “aku ingin menulis puisi tentang kita, agar kuncup hatimu menjadi mekar yang terkabar” Malang, 2011  

KEPADA PENYAIR, PEJALAN MALAM

engkau yang menembus hujan, engkau yang menembus malam, engkau yang menembus ketidakpastian, dengan keberanian ada yang gaduh, di dalam kepala bertabuh. ada yang mengaduh, menyimpan keluh kemana cinta kan berlabuh mungkin puisi bisa menghiburmu, dari rasa sia sia dan putus asa, juga niat bunuh diri o, engkau yang meresah galau, menelusur hari hari hari gaduh yang membuatmu mengaduh, berapa cinta kau pinta? mata siapa yang mengintip ke dalam palung jiwamu, yang penuh gelegak api, neraka yang menghanguskan beri aku kata penuh metafora, sebagai puisi yang menyemburkan api dari kedalaman jiwamu, manusia sepi sebaris luka, di bait yang sama, hanya doa penuh cinta yang sanggup menyembuhkannya aku mencinta dengan keras kepala, karena puisi mengajarkan ketabahan, dari derita dan luka siapa yang meramalkan jari jemari, memeta garis tangan, penyair yang sepi, menyalakan api di dinihari begini bulan meretak, cahayanya telah dipungut bayang bayang, sunyi kian mengelam, di mata membayang Ma

DI SAAT SENJA AKU DIMABUK KATA

di sebatas senja, selalu puisi datang tiba-tiba. malam mencium cahaya, memeluknya demikian mesra. remang yang menggetarkan di desah napas di hembus napas kau rasakan hangatnya? sebagai deru yang memburu, ciuman yang memabukkan apa kabar malam, seru matahari yang direnggut kelam. mereka saling merindukan, di secarik senja di remang cahaya, segala bisa menggila, juga kata. aku dimabuk kata. kata menari-nari di dalam kepala. menggila. gila setiap senja, aku menandai langit, dengan tatap kehilangan. serupa kenangan, kukira aku menyapa senja, dan senja menyapaku dengan redup cahaya tataplah hujan di saat senja, mungkin kau akan temukan pelangi di langit, mungkin juga wajah yang kau rindu, tersenyum padamu tataplah remang cahaya di saat senja, disana berkumpul rasa kehilangan dan perjumpaan. cahaya dipagut gelap. sunyimu kian membekap. hujan di luar, gemiricik yang gaib. serupa ingatan yang tak habis. tentang aku yang kuyup di bawah senja. mungkinkah butir hujan yang menguyup rambutku, a