Skip to main content

Posts

Upacara Sepi

secelah kekosongan tinggal di pinggir halaman. juga jeda antara baris bait. dimana disinggahkan sunyi. namun gaduh juga yang bertalu. setelah lembar-lembar kosong terisi takdir sepi. mungkin telah ditera namaku di situ. juga waktu. saat berjumpa. saat terlunas segala rindu. menatap wajahnya yang cahaya. hingga lebur diri. dalam arus gelombang cahaya lautan cahaya cintanya semata. mungkin, biarlah sepi mencari bunyinya sendiri. karena kutahu telah dimainkannya denting dalam bening hening. dan diwarnainya malam dengan hitam lengang. hingga terasa setusuk sepi mememerihnyeri di dada kiri. di jantung hati. sepisau sepi menikam tikam hingga sampai puncak nyeri merindui kekasih diri. di kilau tajam sehunus sepi tak henti menghunjam ke dalam dada sendiri. o, demikian nyeri ini rindu. mencari dan mencari. ke mana kekasih diri sejati? ingin kutemu sejati. dimanakah engkau wahai kekasih diri. hingga kutemu sejati. cinta sejati. lunaskan nyeri rindu di hati yang ditikam sepi.

Upacara Amnesia

sepertinya aku telah melupakan warna-warna. apa warna untuk rindu apa warna untuk cinta? karena guruf-huruf berguguran dari ingatan tentang puisi yang digugurkan dari rahim waktu, karena tiada kekal kata tiada abadi segala yang diingin selama. tapi masih ingin kutulis seisak yang tersisa dari sobekan kenangan di lipatan yang tak terbaca, mungkin airmata. kutulis diam-diam, selagi amnesia, selagi terlupa, hingga berdenyar segala puisi, mungkin tentang kesedihan yang teramat dalam. hingga berlinang dongeng puteri duyung, atau bintang yang teramat biru, di matamu, karena di rembang senja ditawarkan segala bimbang segala gamang

Upacara Abu & Yang Meledak Dalam Dada

Upacara Abu Api yang dinyalakan telah mulai membakar. Lidahnya lebih tajam dari pedang. Amuknya lebih rongkah dari naga. Meliuk-liuk. Menjilati segala yang ada. Gemeretaknya melucuti keberanian. Menjadi keharuan. Mungkin pula ketakutan. Atau kecemasan. Karena biru hitam kuning merah menjela-jela. Dari wajah kusam. Dari mata yang meliar. Inilah api. Mengamuk di dalam diri. Merobohkan segala. O, diriku telah arang. Diriku telah abu. Ditiup angin ke segala penjuru. Menjelmalah burung-burung yang mencericit memekik menyeru namamu. Namamu. Yang Meledak Dalam Dada 1. ada yang meledak dalam dadaku mungkin bom waktu yang kusimpan telah sampai pada tiktaknya di detik nadir di titik akhir hingga puing puisi berserak menyerpih menjadi puing menjadi abu menjadi debu 2. dijalin kabel dan mesiu dalam dada agar hilang nyeri tak henti menusuki jantung hati dunia yang kehilangan nurani kehilangan cinta sejati diri nyeri diri hingga geletar menjelma gelegar hingga tumpas segala nyeri merindu yang...

Puisi Tentang Puisi Berbicara Tentang Puisi Juga

Bahkan bahkan aku tak ingin menjadi huruf, karena huruf masih mengingatkanku pada puisi, bahkan... lalu ingin kututup buku catatanku, kurekat dengan isolatip, agar tak kukenang lagi, huruf-huruf itu yang merayu dengan matanya yang meredup sayu, bahkan... jangan sebut aku penyair, karena aku hanya debu, yang menghampiri telapak kaki-Mu Mungkin ini mungkin bukan puisi sayang, karena ia telah kupenjarakan dalam angka-angka rahasia, setelah tak mungkin lagi aku membunuhnya. tak mungkin lagi. karena ia sebagai lazarus yang terus bangkit dan bangkit dari balik kubur. maka kukunci saja ia dalam lorong rahasia. walau aku kerap merindukannya. ini mungkin bukan puisi sayang, mungkin bukan, bukan mungkin, bukan bukan, puisi mungkin, bukan mungkin, bukan? mungkin... Puisi yang Kubunuh Itu puisi yang kubunuh itu suatu ketika mendatangiku ia menyeringai dengan gigi yang tajam memburuku di tangannya yang berlaksa jumlahnya tergenggam gergaji, palu, kapak, celurit, m 16, belati, granat, dll ...

Hujan di Dalam Puisi

sebagai kenangmu pada daun daun jatuh di pelataran dan hujan yang mengingatkan pada airmata mungkin sebagai ketulusan yang mengalir menyiram ranggas rerumputan adalah aku yang menulis puisi sebagai patahan-patahan yang menyilang dalam dada sesak tak bertanda baca karena rindu tak terucap dengan kata-kata mungkin juga cinta yang tak tereja bahkan dalam puisi yang demikian sederhana demikian bersehaja tentang hujan yang diam-diam membasah di sebuah siang di musim kemarau mungkin karena demikianlah cinta mengalir menyiram ranggas rerumputan dalam dada...

Anak Anak Yang Melolong Di Malam Kelam

anak anak yang menangis dan melolong di malam kelam adalah kanak kanakmu yang tak bisa tidur sebelum menghisap bau aica aibon hingga rasa nyeri dan mimpi buruk lenyap melesat sebagai bintang yang berpendar pendar di langit tinggi sebagai harapnya yang tak pernah sampai dalam jerit desah lagu dalam serak suara dan kecrek tutup botol di bis yang pengap di kotamu yang pengap dan tak berbelas kasihan...

Membunuh Puisi

serombongan orang berbaju hitam mengiringkan pemakaman puisi yang telah kubunuh di puncak malam yang kelam yang hitam di ulu hatinya kutikam demikian dalam hingga darah membuncah hingga matanya mendelik hingga tinggal aduh hingga tinggal kulihat wajah puisi pucat pasi tak lagi berdarah karena darahnya membasah di seluruh lantai membasah meluap hingga membanjir ke jalan jalan dan orang orang berteriak gembira karena puisi telah mati di tanganku pembunuh yang kesepian dan telah kesal dengan puisi yang seperti kutuk terus mengiang di telinga terus menghantu di dalam kepala dan menyuruhku mendorongnya ke sebuah bukit dan menggulirkannya lagi seperti sebuah esei tentang peristiwa bunuh diri yang bilang sisipus bahagia dan kubunuh saja puisi karena ia rupanya bahagia