Skip to main content

Posts

SEPANJANG JALAN

Aku menyapa dipati ukur yang sedang lari pagi, hai sudah berapa putaran? Keringatnya menetes, udara segar selepas hujan tak membuat keringatnya segera mendingin. Ayo sarapan dulu, lontong sayur pojok monumen, bubur ayam atau kupat tahu. Dipati ukur tersenyum. Aku seperti juga melihat dia bersama teuku umar, hasanudin, surapati, diponegoro berlari menuju arah gedung sate. "Aku telah menemukan obatnya," ujar lelaki di depanku, menyantap cimol dan cilor dengan lahap. Aku menerka dia yang dipanggil pasteur. Segala hama, bakteri dan virus terperanjat karena aku mengenali namanya. "Jangan lupa ke braga, kita menjenguk kenangan di sana," seorang turis lelaki belanda berkata kepada perempuan di hadapannya. Mungkin dia juga ingat sukamiskin, wastuskencana, tamansari dan cihampelas. "Aku ingin mandi di cikapundung yang jernih airnya. Setelah bermain kita di hutan huta dago," perempuan tua, seperti turis, tapi menyimpan masa lalu: harum cemara dan pucuk daun teh. ...

DONGENG ONDE ONDE LUMUT

"Alkisah, pada jaman dahulu kala...." Jadul. Jadul. Cerita kidz jaman now lah. Biar kekinian. Jangan cerita apalah apalah mommy. "Baiklah. Pada jaman now ada seorang gadis bernama Onde onde lumut. Kenapa dia diberi nama itu? Dia suka makan onde onde warna hijau. Onde onde tanpa biji wijen. Saat hamil ibunya ngidam onde onde yang ditontonnya di di film warkop dki." Mana ada onde onde tanpa biji wijen, mommy? Anak pertama bernama Malkan Junaidi menyela, sambil googling mencari gambar onde tanpa biji wijen. "Ini onde ondenya ya?" Teriak anak kedua, Jamil Massa namanya. Diacungkan smartphone. Googlingnya sukses: kue berwarna hijau mengundang selera. Itu klepon. Bukan onde onde. "Ini onde onde pulut." Onde onde pulut berwarna hijau, tak sehijau lumut. Kidz jaman now sibuk sendiri. Ibu mereka tak jadi mendongeng Onde onde lumut. Bandung, 15 Oktober 2017

DENGAN CINTA

suatu ketika rabi'ah ditanya, apakah kau membenci setan? jawabnya: tidak banyak orang kebingungan dan bertanya: mengapa? karena dalam diriku hanya ada Cinta 23 Maret 2000 Sila ditengok juga:   Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

DARAH PERTAMA

lelaki yang terlahir di surga merasa paling tampan sedunia "apa yang hendak kalian persembahkan?" lelaki yang terlahir di bumi persembahkan kurban terbaik "ah, gagak, ajari aku mengubur adikku sendiri" begitulah, darah pertama manusia menetes di tangan saudara sendiri 22 Maret 2000 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

SEORANG ANAK, REMBULAN DAN MATAHARI

rembulan merah darah, tunjuk anak pada langit itu bulan mengapa marah matahari merah darah tunjuk anak pada cakrawala itu matahari mengapa nangis? darahnya leleh pada mata matahari, rembulan mencium seorang anak yang selalu bertanya-tanya dan kata mereka:"syukurlah, tak kau butakan matahati..." Malang, 1993 - 1994 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB